Menu Close

Belajar Dari Maryam

0Shares

Buku paling komplet sedunia adalah Al Quran. Buku yang paling baik, benar, bijak dan sempurna dimuka bumi ini bernama Al Qur’an. Tidak ada keraguan di dalamnya (la roiba) sebab redaktur dan penerbitnya langsung sang Maha Terpercaya dan Sempurna Allah SWT.

Al Quran adalah petunjuk (huda) sekaligus pedoman. Siapa yang ingin kenal dan “pacaran” sama Allah maka surat cintanya adalah Al Quran. Siapa yang ingin sampai kepada Allah maka Al Quran adalah tiketnya. Siapa yang ingin pernikahan-nya langgeng-bahagia maka mas kawin nya hendaknya Al Quran. Dan siapa saja yang ingin selamat dunia-akherat maka Al Quran menjadi senjata andalan-nya.

Membaca Al Quran berarti membaca nilai, ilmu, pelajaran,  petuah dan hikmah. Al Quran memberikan cahaya bagi kegelapan. Memberikan keyakinan pada keraguan. Memberikan kegembiraan untuk kesedihan. Serta memberikan jalan keluar (makhraj) atas segala bentuk kesulitan, kebuntuan dan berbagai macam permasalahan.

Mulai hari ini, mari kita lebih rajin lagi membuka Al Qur’an kita. Lalu membacanya, mentadabburi setiap makna ayat demi ayat. Pada kesempatan kali ini, saya ingin mengajak diri saya yang bodoh ini dan juga saudaraku semua (JM) untuk membuka Surat Maryam ayat 24-25. Dari sana kita dapat belajar tentang kisah perempuan tangguh berstatus single parent yang bernama Siti Maryam. Allah SWT berfirman ;  Fa naadaaha mintahtiha allaa tahzanii qod ja’ala robbuki tahtaki sariyyaa. Yang artinya ; “Maka dia (Jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, “Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.”(QS. Maryam: Ayat 24)

Allah SWT menyuruh Jibril AS untuk menghampiri Maryam yang kala itu tengah kesakitan pasca melahirkan putranya Isa AS. Selain menahan sakit, Maryam juga kehausan dan kelaparan. Ia tak berdaya, tak bisa berbuat apa-apa. Allah tentu tidak tega melihat hamba terkasih-Nya susah, gelisah dan berlinang airmata. Maka Jibril di utus untuk menghibur hati Maryam dan memperlihatkan kebesaran Tuhan dengan berujar ; “Janganlah engkau bersedih hati wahai Maryam, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.”

Mari kita dalami dalam-dalam makna ayat diatas. Bahwa Allah pemilik jagat raya ini bisa memberikan apa saja kepada kita tanpa ada sebab, tanpa alasan, tanpa diduga atau disangka-sangka (Min haitsu laa yahtasib). Pada surat Maryam ayat 24, tidak ada peristiwa sebab-akibat disana. Allah tidak memberi karena diminta. Allah tidak mengabulkan karena ada doa permohonan. Tapi Allah spontan, seketika

langsung menjadikan anak sungai didekat Siti Maryam berada. Agar Maryam dan Isa bisa meminum air tersebut. Maryam tidak berbuat apa-apa, Maryam juga tidak bekerja. Tetapi Allah yang bekerja memberi apa yang dibutuhkan Maryam tanpa Maryam meminta sebelumnya.

Kemudian dilanjutkan pada ayat berikutnya yang berbunyi ; Wa huzzi ilaiki bijiz’in nakhlati tusaaqith ‘alaiki ruthoban janiyyan. Artinya “Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: Ayat 25).

Jika pada ayat 24 – Allah memberi air minum kepada Siti Maryam dan Isa AS tanpa ada peristiwa sebab-akibat. Maka diayat- 25 Allah mengajarkan sesuatu/ilmu yang berbeda kepada Siti Maryam. Allah melalui Malaikat Jibril hendak memberikan makanan kepada Maryam tidak secara cuma-cuma alias gratis. Namun Siti Maryam harus “membayar”nya terlebih dahulu. Allah menyuruh Maryam untuk obah, bergerak, berusaha dan bekerja terlebih dulu agar ia dapat memperoleh makanan. Yaitu dengan cara menggoyang-goyangkan pangkal pohon kurma yang disandarinya. Dengan digoyangkan-nya pohon kurma tersebut maka buah kurma yang masak berguguran sehingga dapat dimakan oleh Maryam dan putranya. Ada peristiwa sebab-akibat pada ayat 25 tersebut. Menggoyangkan pohon adalah sebab-nya, buah berguguran ialah akibatnya. Artinya Allah mau memberi jika engkau/ kita mau berusaha mendapatkan-nya. Allah berkenan mengabulkan jika ada doa sungguh-sungguh memohon kepada-Nya.

Tidak berhenti sampai disitu saja.  Ada satu hal yang luar biasa jika kita mau ngonceki lebih dalam lagi kandungan makna yang tersirat di ayat 25 diatas. Secara logika, Siti Maryam yang usai melahirkan pada waktu itu tentu kondisinya sangat lemah bahkan mungkin tak berdaya. Orang yang sedang lemah, pasti tenaga-nya tak seberapa. Kita sama-sama tahu bahwa pohon kurma yang sudah berbuah tentu memiliki batang yang tinggi dan besar. Lalu sebesar apakah kekuatan Siti Maryam ketika menggoyang pohon kurma hingga buahnya jatuh berguguran?”. Hal ini mengajarkan kita kembali bahwa sebenarnya yang bekerja adalah Allah. Meminjam istilah-nya Mbah Nun; sejatinya kekuatan Maryam ketika menggoyang pohon kurma itu adalah kekuatan Allah yang dipinjamkan kepadanya (Maryam). Atau bisa saja, Allah ‘menyuruh’ si pohon kurma untuk berkenan mengugurkan buah-buahnya. Yang demikian itu mudah bagi Allah, namun kadang manusia tak sanggup untuk menjangkau-nya. Meski kita diharuskan untuk selalu berusaha dan bekerja tetapi tetap Allah yang kuasa menghendaki hasil-nya (Fa’aalul limaayuriid).

Hari ini kita bisa belajar banyak dari surat Maryam ayat 24 dan 25. Bahwa Allah SWT bisa memberikan apa saja tanpa sebab, tanpa kita minta dan tanpa kita mengusahakan-nya. Namun ada kalanya juga Allah berkenan memberi dan menghendaki setelah kita mau meminta kemudian berupaya keras, berkarya, bekerja untuk mendapatkan-nya.

Air dan kurma yang diperoleh Siti Maryam adalah hadiah dari Allah SWT. Hadiah yang juga bisa kita dapatkan dengan cara, bekerja sebaik-baiknya dan senantiasa berbaik sangka kepada Sang Maha Baik Allah Azza wa jala.

Sragen, 28 Feb 2017

Oleh: Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait