Menu Close

Seyogianya

0Shares

Peristiwa ini terjadi dan saya alami setahun yang lalu. Di hari siang bolong, saya hendak berkunjung ke tempat salah satu sahabat saya di daerah Bulak kapal, Bekasi timur. Di depan stasiun kota Bekasi, saya menunggu mobil Elf warna biru jurusan Bekasi-Cikarang. Tak berselang lama mobil yang saya tunggu pun melintas. Saya segera naik ke dalam mobil, dan di dalam mobil tampak lengang, hanya ada saya dan pak sopir. Mungkin karena hari masih siang dan puasa juga, sehingga mobil sepi penumpang.

Mobil Elf yang saya tumpangi melaju pelan, terlebih lagi saat sampai di depan pasar baru Bekasi. Banyak angkot yang ngetem sembarangan di sepanjang jalan dan tampak pula orang yang berlalu lalang. Situasi lebih kacau lagi saat sampai di depan pintu keluar Terminal induk Bekasi. Bis, angkot, mobil pribadi, motor, semua bentrok di situ, saling serobot untuk mendahului. Tak terkecuali mobil Elf yang saya tumpangi, si sopir juga berusaha untuk mencari celah, menerobos di antara berjubelnya kendaraan. Saya hanya bisa duduk pasrah di jok mobil paling depan menyaksikan kejadian semrawut tersebut.

Mobil Elf yang saya tumpangi terjebak macet persis di sebelah pintu keluar terminal. Lagi-lagi saya cuma bisa ngelek idu dan mencoba menikmati kemacetan. Saya sandarkan badan sambil lihat kiri kanan, dan tak sengaja saya melihat sebuah bangunan di samping terminal mirip seperti rumah ibadah. Ya, ternyata bangunan tersebut adalah gereja. Persis di gerbang masuk gereja terpampang sebuah spanduk berukuran cukup besar sekitar 1 x 4 meter yang bertuliskan:

“GEREJA KRISTEN PASUNDAN BEKASI, MENGUCAPKAN SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA”

Saya coba amati lagi tulisan di spanduk tersebut, apakah benar yang saya baca tadi atau mata saya yang salah membacanya. Namun setelah saya lihat lagi dengan seksama ternyata tidak ada yang salah dengan yang saya baca barusan. Pemandangan yang cukup menarik dan menggelitik hati saya. Spanduk tersebut menyiratkan sebuah pesan moral dan juga menggambarkan sikap toleransi dalam beragama. Mereka yang non muslim pun sudi mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi saudara muslimnya yang sedang menjalankan ibadah puasa. Dan saya sebagai seorang muslim, merasa “dihormati” oleh mereka saudara-saudaraku yang non muslim. Bahkan tidak menutup kemungkinan, ketika nanti mendekati hari raya Idul Fitri tiba, spanduk di gereja Pasundan tersebut mungkin akan di copot dan di gantikan dengan spanduk lain yang bertuliskan:

“GEREJA KRISTEN PASUNDAN BEKASI, MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN”

Pemandangan ini tentu terlihat indah sekali karena terpasang di sebuah gereja. Dan inilah sikap yang harus kita bina dan pelihara. Kita boleh saja beda dalam memeluk agama dan kepercayaan, tapi jangan sampai lupa bahwa kita sama-sama manusia, sama-sama ciptaan Tuhan, semua anak cucu Adam. Kita terlahir satu nusa satu bangsa, dan sudah selayaknya untuk saling menghormati antar sesama.

Apakah salah jika orang kristen mengucapkan selamat berpuasa kepada saudara muslimnya?’ Apakah keliru, jika ada orang hindu mengucapkan selamat Idul Fitri bagi tetangganya yang merayakan hari raya?’¬† Menurut saya tidak ada yang salah dan keliru. Hal tersebut sah-sah saja untuk di lakukan. Saya seorang muslim, akan senang sekali rasanya jika ada teman, tetangga atau kerabat yang tidak seagama dengan saya, tapi mau mengucapkan selamat berpuasa kepada saya. Tambah girang lagi jika mereka juga memberi selamat kepada saya, saat hari raya Idul Fitri tiba. Saya terima dengan rasa syukur penuh gembira atas ucapan selamat yang di berikan oleh saudara non muslim tersebut.

Ada juga sebuah riwayat, yang menceritakan bahwa dahulu kanjeng nabi Muhammad SAW pun pernah menerima hadiah dari seorang Yahudi. Rasul menerima hadiah tersebut dengan senang hati karena beliau menghormati dan menjaga perasaan saudara Yahudi tersebut.

Maka tidak ada alasan buat saya, anda dan kita semua untuk tidak menghormati pemeluk agama lain. Jika kita mengaku muslim harusnya kita jauh lebih punya rasa empati tinggi, peduli dan toleransi terhadap saudara yang tidak seiman. Bukankah islam adalah agama yang “Rahmatan lil’alamiin?” Kalau konteksnya lil’alamiin berarti menyeluruh – kabeh – All – Universal tanpa kecuali. Merahmati seluruh yang ada di alam semesta baik kepada makhluk yang hidup atau yang mati. Jadi kita belum menjadi seorang muslim beneran jikalau belum berperilaku Rahmatan lil’alamiin.

Apabila kita yang muslim di hormati oleh yang non muslim, maka seyogianya kita harus jauh lebih menghormati kepada yang non muslim. Jika kita yang muslim di beri oleh saudara yang non muslim maka kita harus lebih banyak memberi ke mereka yang non muslim. Jika kita di beri ucapan selamat hari raya dan hadiah oleh sahabat yang non muslim maka saya atau anda pun “wajib” membalas untuk memberi selamat dan memberikan hadiah yang lebih kepada mereka. Itu menjadi salah satu cara dalam mempraktekkan konsep Rahmatan lil’alamiin. ¬†Mencoba untuk menghormati dan merahmati semuanya. Bukan berarti saya menjadi kristen jika saya memberi ucapan natal, tidak lantas saya menjadi budha jika saya mengucapkan selamat waisak dan bukan pula jadi hindu jika saya mengucapkan selamat nyepi. Kita bungkus kesemua itu dengan kalimat lakum dinukum wali yadin (untukmu agamamu, untukkulah agamaku). Dengan begitu semoga akan tercipta kehidupan bermasyarakat yang harmoni, berbhineka tunggal ika dalam keberagaman.

Suluk Surakartan di tulis huruf latin

Selamat lebaran, mohon maaf lahir-batin

Sragen, 23 Juni 2017

Oleh: Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait