Menu Close

Thariqat Doorprize-iyah

13Shares

Tak pernah bermimpi saya bisa naik kereta api eksekutif. Kursi empuknya mulai terbayang manakala tiket sudah berada di genggaman. Dari perspektif ekonomi, ini termasuk kategori mewah di kehidupan saya. Setelah melewati lima pengantri, atau empat lebih tepatnya karena satu orang dengan nomor antrian 4, tidak datang.

“Nomor antrian empat, menuju, ke, loket satu.”
“Nomor antrian empat, menuju, ke, loket satu.”
“Jika sekali lagi panggilan ini tidak digubris, maka hadiah hangus.”
Kalian kira pembagian doorprize jalan sehat?

Tiket kereta api eksekutif jurusan Solo – Jombang seharga beras 20 kilogram saya simpan untuk perjalanan ke Padhang Mbulan. Tak ada firasat apa-apa dan saya juga berusaha untuk tidak menjadikan perjalanan ini adalah perjalanan yang dipenuhi aura spiritual. Saya ingin berpergian dengan gembira. Meski kalian tahu, dompet ini hampir selalu ditinggal oleh penghuninya. Hanya ada beberapa penghuni tetap. Itupun tak terlalu berharga di negara tercinta Indonesia Raya. Seumpama hilang di jalan, orang tak akan berpikir untuk mengambilnya. Melirik saja nggak. Paling mbatin, “Oh, itu e-ktp? Udah selesai kasusnya?”

Hadir di Padhang Mbulan untuk kali ketiga. Dan kali ketiganya pula saya tidak pernah punya niat ngotot untuk hadir di Menturo sana. Karena konsentrasi saya yang paling mutakhir adalah perut istri yang semakin membesar. You know lah ya. Saya itu lagi seneng-senengnya di rumah. Pergi paling buat kerja. Selebihnya nggak kemana-mana. Cuma ngelus-elus perut istri saja. Setiap pergi selalu ingin segera sampai di rumah lagi. Tapi, saya memang yakin bahwa cerita hidup ini pasti menyimpan berbagai kejutan. Rumangsamu Tuhan ora iso memberi doorprize po?

Kejutan itu tiba di hari Rabu, akhir Februari lalu. Baru lima belas menit saya meletakkan pantat di karpet rumah sepulang kerja, ada kalimat sapaan yang tidak biasanya dari mas Helmi Proggres via chat whatsapp.
“Selamat sore, tuan..”
“Iya kisanak.”
“Ada sabda dari Simbah. Panjenengan katuran berangkat ke Padhang Mbulan.”

Saya tanya, kalau panjenengan dapat kabar semacam itu, apa yang panjenengan lakukan selanjutnya. Seneng? Bungah? Gembira? Bersyukur? Atau seperti saya, mondar-mandir kayak nunggu lahiran anak pertama?

Tidak lantas saya iya-kan undangan itu. Karena secara teknis saya harus memastikan selesainya beberapa hal. Kontrakan bocor parah dapurnya. Oke, itu sudah beres. Hari Minggu lalu sudah diperbaiki. Lalu masalah komunikasi. Hape satu untuk berdua. Iya, saya dan istri sedang menempuh laku, supaya rasa cinta di antara kami berdua semakin kuat. Supaya chemistry-nya dapet. Nomor untuk short message service dan telpon jaringan GSM dikuasai oleh istri saya. Sedang untuk keperluan internet, komunikasi semacam chatting whatsapp, saya sebagai komandonya. Kami terbuka satu sama lain.

Saya pikir itulah esensi kenapa produsen hape dari China membuat terobosan dual sim. Supaya keluarga Indonesia menjadi keluarga yang harmonis. Tidak terpecah belah antara satu dengan yang lain. Saya berharap syukur ada kuarto sim. Jadi satu keluarga cukup dengan satu hape dengan empat nomor berbeda. Oke, ini ide aneh. Mustahil orang China mau bikin beginian.

Karena hape kami jadi satu, karena itu pula ketika saya berpergian jauh untuk waktu dengan hitungan hari, saya harus kuat menahan rindu. Ini agak sulit. Kalian tahu meski tidak ada eksakta massa jenis yang pasti, tapi puasa rindu itu sukarnya minta ampun. Pun ketika sedang ada masalah dengan orang yang kita cintai, rindu itu diam-diam hadir layaknya ninja. Tiba-tiba muncul dan menyerang begitu saja. Ah, gagallah kita menjadi perindu yang kaffah.

Yang ketiga, jadwal Padhang Mbulan jatuh pada hari Jumat, 2 Maret malam. Yang tentu saja akan selesai menjelang Sabtu subuh. Padahal, Sabtu jam 09.00 saya harus berada di tempat kerja.

Kalau saya mondar-mandir tak jelas karena bingung bagaimana harus bersikap, wajar kan?

Hari Kamis pagi saya baru mencari jadwal kereta keberangkatan. Awalnya saya memilih kereta ekonomi dengan jadwal tiba di Jombang sekitar setengah sembilan malam. Kalau begitu saya juga harus mencari tahu rute dari stasiun Jombang ke Menturo. Beruntung katanya sudah ada Grab disana. Saya instal aplikasi go-jek dan grab sekaligus biar adil. Hape remuk yo ben.

Tapi itu juga sudah terlalu malam kalau setengah sembilan. Dengan berat hati saya kabarkan kepada mas Helmi bahwa akhirnya saya memilih kereta eksekutif Argo Wilis. Mas Helmi malah menyambutnya dengan suka cita.
“Iya udah pakai itu saja. Biar nanti kita tiba di Jombang sama-sama. Aku pakai kereta akhirnya. Masih ada kuliah paginya.”

Lega pemirsa. Ada barengan dari stasiun Jombang ke Menturo. Sampai di Jombang ba’da isya’.

Dan begitulah, kursi empuk, tidak sumuk, Solo – Jombang rasane sak-nyuk. Eh tak dinyana, ternyata saya satu gerbong dengan mas Islamiyanto dan Pak Yoyok Kiai Kanjeng. Mas Helmi dan Mas Jamal Proggres berada di gerbong yang lain. Sedang mas, siapa itu yang S3 di universitas Leiden, yang kemarin datang di Suluk Surakartan, beliau juga ada.
Sampai di stasiun Jombang langsung disambut mobil penjemput. Lumayan ora usah ngojek.

Menturo, Jombang, kenapa pula saya sampai disini lagi. Berjumpa dengan beragam manusia yang dipersatukan karena sama-sama masih perlu amat banyak sekali belajar. Saya tuju Soto Lamongan gratisan di depan ndalem kasepuhan. Cocok dengan hawa dingin malam itu. Saya masih tidak percaya kalau Simbah yang berpesan supaya saya datang ke Padhang Mbulan untuk turut serta memberikan pandangan terkait dengan Kiai Kanjeng, atau lebih spesifik tentang Pak Ismarwanto yang beberapa waktu lalu berpulang. Pemain suling di Kiai Kanjeng itu, kita juga harus belajar darinya. Termasuk laku hidupnya.

Di Menturo, sinyal internet saya tenggelam. Setelah makan soto saya bergegas ke masjid di sebelah selatan ndalem kasepuhan. Ketemuan sama mas Saiful. Seorang ‘pewarta’ caknun.com wilayah jawa timur. Dengan tujuan utama, saya mau minta tolong untuk diantar sampai ke pasar Peterongan mencegat bus. Saya harus mruput pulang ke Solo keesokan paginya.

Lama berselang, pentas demi pentas, baik dari siswa SMK Global maupun anak-anak TPA sekitar, sudah usai. Ngaji dan berdoa untuk Pak Is dan beberapa kawan di Kiai Kanjeng yang sudah mendahului pulang ke pangkuan Gusti digelar. Pak Rahmat, Pak Harwanto, Pakdhe Nuri, dan mas Zainul. Jamaah khusyuk.

Kemudian Mas Islamiyanto dan Mas Imam memberi sosialisai tentang Sholawat Nur. Jamaah larut. Jujur, saya mulai dilanda kantuk.

Simbah, disusul redaktur maiyah, Mas Helmi, Mas Jamal, dan Mas Hariyanto mulai naik ke panggung setelah satu nomor lagu dibawakan oleh Kiai Kanjeng. Saya pikir, saya tidak jadi naik ke panggung berarti. Saya mencari tempat duduk diantara jamaah. Berharap bisa mendengarkan sambil teklak-tekluk. Aku iseh ngono kuwi.

Sampai jam 23.00, setelah beberap poin didedah oleh Simbah, dari arah panggung Simbah mempersilakan, “Di sini sudah hadir juga Mas Didik dari Solo. Seorang pemerhati musik. Sambil menunggu mas Didik ke panggung, satu nomor dari Kiai Kanjeng….”

Saya terhenyak. Pemerhati musik? Dengan tergopoh sekonyong-konyong saya membelah lautan manusia. Kalau kalian paham, Padhang Mbulan itu semakin malam, malah semakin ramai. Akses ke panggung hampir tidak ada. Dengan sangat hati-hati saya memohon permisi kepada jamaah yang saya lewati dan saya injak-injak sandalnya.

Di panggung,
“Njenengan tadi dimana? Tak telpon kok nggak bisa.” Mas Jamal yang duduk di sebelah membisiki saya.
“Ngapunten mas. Hape saya ini berdua dengan istri. Nomor telponnya milik istri. Sedang WA, disini nggak dapat sinyal.”
“Gimana, sudah dipersiapkan? Atau mengalir saja nanti?”
“Mengalir saja mas.”
“Ini Simbah sendiri yang berpesan.” Kata mas Jamal sambil menunjukkan chat whatsapp di grup Proggres.
Saya kaget. Saya pikir. Lha apa tidak ada orang lain? Yang lebih mumpuni keilmuwannya. Termasuk analisisnya soal musik. Akademisi musik kan banyak. Apalagi di Jogja. Surabaya juga ada. Banyaklah. Bukan saya merendah. Tapi memang kasunyatannya begitu. Iya kuliah saya di bidang budaya musik. Tapi kan, saya kuliahnya lama. Ya memang karena nggak mudengan itu.

Tibalah giliran saya sesaat setelah saya oleh Simbah diperkenalkan kepada jamaah. Bahwa saya pemerhati musik dari Solo, yang sudah beberapa kali menulis tentang Kiai Kanjeng. Saya ketiban sampur pula kedepannya untuk menulis tentang Kiai Kanjeng. Dan kalimat yang keluar dari mulut saya setelah mengucapkan salam,
“Di sini yang penggemarnya Via Vallen?” beberapa jamaah mengangkat tangan sambil tersenyum.
“Nella Kharisma?” tak hanya jamaah, kali ini mas Helmi pun hampir berdiri.
Pemerhati musik cap opoooooo……

Suwun Cak, suwun sanget ilmunya pagi itu.
Suwun Cak Zakky, Mas Helmi, Mas Jamal, Mas Saiful, para personil Kiai Kanjeng, keluarga Menturo Jombang, sedulur-sedulur semua. Sekalian minta tambahan donga pangestu supaya misi yang sedang saya emban, tuntas. Suwun suwun suwun….

Ini bagian dari thariqatku. Thariqat doorpize-iyah. Dengan mantra pembuka:
Bismillah. Moro-moro mrono. Mbak bedunduk ono. Ngerti-ngerti iso.

Didik W. Kurniawan, pemerhati musik
Musik aja diperhatiin, apalagi kamu…

Tulisan terkait