Menu Close

Terima Kasih

0Shares

Jangan protes. Intinya jangan protes. Orang ngidam itu tidak bisa dinalar. Dicandaki pakai logika tidak bisa. Semacam keganjilan yang muncul tiba-tiba. Bertolak belakang dari kebiasaan. Tanpa sebab. Tanpa ada intro sebelumnya. Pokoké sakdek saknyet.

Ngidam. Kata atau peristiwa inilah yang sampai hari ini masih saya alami. Mungkin, kisanak Didik WK juga merasakan hal yang sama.

Alhamdulillah teman-teman sekalian, kandungan istri saya kini memasuki usia empat bulan. Dan rentang empat bulan itulah saya bersentuhan dengan yang namanya ngidam. Bergelut bahkan. Istri pengin ini pengin itu. Mau makan A, minum B. Nggak kenal waktu gitu. Siang-malam, panas-hujan, tanggal muda atau tua, kalau minta ya harus ada. Saat itu juga.

Dua minggu terakhir ini si mbok wedok mengklaim dirinya tidak doyan makan nasi. Bau nasi itu nggak enak. Kalau dimakan bikin muntah. Doyannya sekarang bongso polowijo dan polo kependem. Macam telo, kentang, kacang, pohong, gedhang, jagung godhog. Serba godhog pokoknya.

Dan drama itu terjadi sepekan lalu. Bakda isya’, Gemolong diguyur hujan. Deras bin lebat. Petir pun menggelegar, semakin mencekam suasana. Tiba-tiba istri bicara.

“Pengin maem jagung rebus.”
“Sekarang?”
“Iyaaa…” (Istri memelas)
“Hujan i yang…”
“Lapeeerrrrr, ini yang minta dedek bayi.” (Istri menunjuk ke arah perut)

Saya hanya mengangguk, ambil dompet, kontak motor dan memasang seperangkat jas hujan. “Jangankan hujan, lautan samudera kan kusebrangi demi membahagiakan sang istri.” Gumam saya. Alay yo ben.

Ada penjual jagung rebus langganan saya yang biasa mangkal di depan Toserba. Hujan badai diterjang. Petir menyambar tak dihiraukan. Na’as, sesampainya disana gerobak penjual jagung tidak ada. Entah libur nggak jualan, atau jagungnya sudah habis terjual. Kemana lagi ini. Perburuan jagung rebus terus dilakukan.

Oh ya, saya ingat. Diseberang rel kereta sepertinya ada penjual jagung rebus. Makwer, motor langsung melesat ke arah rel kereta. Apes, tak ada tanda-tanda penjual jagung disana. Ya Allah, bagaimana ini. Terus nyari kemana lagi.

Seluruh kawasan kota Gemolong saya susuri. Setiap gang saya lewati. Dari poncot kulon ke etan. Dari ujung lor hingga perbatasan selatan. Tetap tidak ketemu satu pun penjual jagung rebus. Oh Tuhan. Kalau pulang dengan tangan hampa, istri bisa nangis meronta-ronta.

Setengah putus asa, motor saya arahkan menuju jalan pulang. Sembari mikir, gantinya jagung rebus apa ya kira-kira. Tapi kan mintanya jagung rebus, masak diganti yang lain. Kalau diganti yang lain apa dia mau. Kalau dia nggak mau gimana. Tapi kalau nggak dibeliin sesuatu takut ia kecewa. Pertarungan hati meletus. Aaarrrggghhhhhh……….Duaarrrrrrrrr…………

Hujan masih lebat. Air yang membasahi jas hujan sudah merayap ke baju. Menyelinap ke balik bilik-bilik celana. Dingin mulai menyergap. Ya sudah, apa boleh buat. Pulang saja dan menyiapkan jurus andalan yakni minta maaf.

Saat lampu sen ke kanan dinyalakan, ketika motor hendak belok masuk perumahan, terlihat cahaya kuning keemasan serupa lampu sentir dari arah berlawanan. Laju motor saya pelankan, dan cahaya samar itu kian mendekat. Allahu Akbar. Ternyata benar, itu penjual jagung bakar. Eh rebus maksud saya. Puji Tuhan.

Motor saya parkir ditepi jalan, dan penjual itu saya stop.

“Jagungnya masih pakde?”
“Masih dua mas?”
“Alhamdulillaaaah, pinten pakde?”
“Empat ribu saja mas.”

Tersenyum dan bersyukur, saya sodorkan selembar uang sepuluh ribuan ke pakde penjual jagung. Maturnuwun sanget pakde. Ini untuk istri saya yang tengah hamil di rumah. Tadi dah muter seser nyari ndak ketemu. Untung ketemu sama panjenengan. Saking lega dan senengnya, saya tidak meminta uang kembalian.

Sebentar, biasanya dan setahu saya, penjual jagung di area Gemolong itu mangkal, jarang ada yang keliling. Tapi kok tadi ada penjual yang keliling muter ya. Bulu kuduk spontan merinding. Apa jangan-jangan penjual tadi mirip yang ada di film Suzanna itu ya. Atau jangan-jangan Malaikat Jibril sedang menyamar. Kasihan melihat saya. Iba dengan kondisi istri saya saat ini. Ahh, ilusi. Saya coba sadarkan diri, dan haqul yakin bahwa itu murni pertolongan Illahi.

Peristiwa pencarian dan perburuan jagung rebus malam itu saya ceritakan kepada sang istri. Cukup dramatik dan heroik. Ia nampak gembira dan salut atas perjuangan suaminya. Haha. Tukang penjual jagung rebus itu bak Malaikat. Datang disaat yang tepat, dan tiba kala dirundung putus asa.

Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih kepada penjual jagung rebus kemarin. Rasa-rasanya kami masih utang rasa kepadanya. Entah kenapa, pikiran saya diajak mikir lebih panjang. Dirangsang untuk menyimulasikan dengan sederhana mengenai perjalanan jagung rebus dari awal sampai kemudian dapat dimakan. Kurang lebihnya seperti ini. Jagung itu digodhog si penjual dengan menggunakan arang atau gas. Arang atau gas dibeli dari warung. Sebelumnya lagi penjual tersebut membeli jagung mentah dari pasar. Sebelum diperjualbelikan oleh pedagang dipasar, jagung tersebut didistribusikan oleh pengepul. Dan si pengepul kulakan dari para petani. Petani-lah yang nandur atau menanam jagung dikebun, ladang atau sawah. Nah, siapa sejatinya yang punya tanah berupa kebun, ladang, atau sawah? Siapa yang sedia menurunkan air hujan dari langit sehingga tanah menjadi gembur dan subur? Siapa pula yang mampu me-nukul-kan bibit jagung, untuk kemudian tumbuh kembang, menjadi besar dan berbuah? Saya yakin panjenengan semua bisa menjawabnya.

Ketika saya atau anda memakan satu jagung rebus saja, ternyata dibalik peristiwa tersebut telah berlangsung proses yang panjang sebelumnya. Namun sayangnya sedikit sekali dari kita yang mau membaca. Melihat, menelaah, dan meneliti proses demi proses yang terjadi.

Pada akhirnya ucapan terima kasih dan utang rasa saya kepada penjual jagung tersebut, secara tidak langsung turut menyeret saya untuk menyampaikan terima kasih kepada penjual warung, pedagang jagung di pasar, pengepul, petani dan bermuara kepada Allah Swt.

Pandai-pandailah kita untuk berterima kasih. Cara kita berterima kasih, menentukan bagaimana kita menerima kasih.

Terima kasih.

Gemolong, 17 Maret 2018
Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait