Menu Close

Fulusun Tafsir (Tafsir Uang)

0Shares

Banyak kitab tafsir yang kita temui. Untuk menguasainya, pada umumnya memerlukan kesiapan kesiapan yang tidak sederhana, seperti penguasaan bahasa, ilmu ilmu lain, dan mungkin biaya yang tidak sedikit, kecuali mendapat beasiswa.

Mungkin saatnya kita bikin kitab tafsir murah meriah dengan judul “Kitab Fulusun Tafsir”, sebuah kitab yang nguplek-nguplek duit. Selama ini jika bicara uang lebih banyak melibatkan pakar pakar ekonomi, motivator bisnis, praktisi keuangan dan jika ada yang dianggap tokoh agama-pun , pembahasanya hanya ganti kemasan sama isi.

Jarang yang menafsirkan uang sebagai sumber potensial energi yang sebangun dengan kalor yang dibakar ketika badan bergerak, samadengan Anda mengayuh sepeda habis energi berapa, juga tak beda jauh dengan berapa banyak arus listrik PLN yang Anda gunakan, sama dengan Anda wahing, batuk, berak dan ngrasani tetangga atau saudara yang habis punya hajat dengan hidangan enak tetapi tetep ae dirasani ada yang kurang.

Memiliki uang sebagai bagian energi pemberian-Nya tidak sebangun dengan menganggap sebagai bagian kekayaan seperti selama ini. Uang dengan kesadaran energi akan diperlakukan sebagai salah satu sumber potensial yang harus dikelola, dikhilafahi, di management dengan cukup teliti. Uang sebagai sumber energi potensial pemberian-Nya diperlakukan sebagai mana pesan Pemberi, di mana setiap bagian terkecil secara akuntable dapat dipertanggungjawabkan.

Antara lain di sana ada bagian yang harus didistribusikan serap habis, tanpa kembali. Ada yang harus dibagi dengan ujud utang piutang-didalamnya juga ada utang piutang yang disertakan pemberian cara mengatur lalu lintasnya. Ada yang harus dibagikan dengan cerdas tanpa pengembalian, misal uang belanja keluarga, sangu sekolah dll. Ada yang harus disertakan dalam sebuah kegiatan yang membangun kebaikan kesejahteraan bersama – yang secara cerdas kehalusan khas Tuhan dengan “ akan kami beri balasan berlipat/ pahala dll”.

Demikian pula sebaliknya memahami pemberian-Nya sebagai energi. Pengelolaan mulut telinga, mata, tangan, kaki, dan lubang lainya tidak beda jauh dengan bagaimana kita mengelola uang sebagai bagaian pemberian energi.

Dengan kesadaran di atas, tidak bisa boros hanya membuang uang berbelanja di mall. Bisa jadi ngrasani, gosip adalah pemborosan energi. Demikian pula mata!, memandang sesuatu yang umumnya berujung keinginan termasuk yang harus diadministrasi dengan baik. Telinga pun tidak luput dari bagian yang dijaga agar tidak boros energi, dan tentu saja lubang lain di bawah sangat jelas asas manfaat boros dan potensial huru haranya.

Maka merupakan suatu keindahan cara penyampaian bagaimana sebelum shalat kita diwajibkan membersihkan anggota badan dengan berwudlu yang pada dasarnya mengajarkan bagaimana tata tertib awal managemen energi disimbolkan dengan membersihkan muka yang disana ada mata telinga mulut hidung, kemudian tangan dan kaki yang notabene bagian dari hardware perubah energi.

Dengan kesadaran energi, pada dasarnya minimal kita akan lebih hati hati, memiliki kesadaran akuntasi yang akan menghitung segala sesuatunya bukan hanya untung rugi secara pribadi atau kelompok, akan tetapi jauh futuristik melompat dari untung rugi dirinya dihadapan Sang Maha Akuntasi Pemberi Energi. Yang demikian mungkin bisa disebut kesadaran shalat. Shalat yang sudah tidak terikat ruang waktu. Setiap ruang adalah masjid, setiap waktu adalah shalat.

Munir Asad

28 Maret 2018

Tulisan terkait