Menu Close

Ekonomi Sebagai Sarana Pengabdian

0Shares

Sudah hampir setahun, Tim ekonomi Maiyah Suluk Surakartan (Tim Kartel Nusantara) berdiri. Berdirinya Tim Kartel Nusantara ini merupakan salah satu bentuk penafsiran atau pengejawantahan dulur-dulur penggiat dari pesan Simbah tentang wala tansa nashibaka minaddunya, kepada seluruh jamaah maiyah dimanapun tempatya. Kesadaran untuk membangun ekonomi jamaah merupakan suatu hal yang penting untuk diperhatikan. Maka dari itu, sebisa dan semampu mungkin sedulur-sedulur penggiat Suluk Surakartan membentuk wadah ekonomi bagi jamaah. Dari usaha ini diharapakan sedikit atau banyak mampu menjadi pemenuhan kebutuhan jamaah sehari-hari. Ya minimal kendile ora ngguling, ya syukur-syukur bisa menjadi antitesis dari penguasa ekonomi nusantara saat ini lah.

Walaupun dalam perjalannanya, Tim Kartel Nusantara saat ini masih terbilang mbarangkang sambil grayak-grayak. Tapi itu bukan menjadi soal, karena didalam ilmu maiyah yang telah kita dapatkan, dalam sebuah proses tidak serta merta langsung bisa memperoleh hasil yang signifikan. Karena setiap hal, apapun itu, pasti membutuhkan atau melalui sebuah fase step by step.  Seperti halnya apa yang dialami tim Kartel Nusantara saat ini bisa terbilang masih berada fase awal dari perjalanan yang masih panjang.

Ibarat Tim Kartel Nusantara ini sebuah tumbuhan, maka seyogyanya sebuah tumbuhan memerlukan unsur hara yang ada didalam inangnya.  Salah satu ikhtiar yang dilakukan Tim Kartel Nusantara untuk menyuplai nutrisi pertumbuhannya ialah dengan melakukan sinau bareng ekonomi. Dalam sinau bareng ekonomi ini, direncanakan akan dilakukan beberapa sesi sesuai analisis kebutuhan.  Sesi pertemuan awal sinau bareng ekonomi telah terlaksana pada hari minggu 25 Maret kemarin. Pada kesempatan awal tersebut menghadirkan  pelaku atau praktisi sebagai fasilitatornya diantara lain. Mas Arsanto dari SBRI (Sekolah Bisnis Ritel Indonesia) Pak Asad pelaku bisnis mebel dan Cak Haryanto dari pengerak Gerbang.

Dari pertemuan awal tersebut, banyak sekali ilmu yang saya dapatkan. Dan ternyata banyak sekali kesalahan presepsi dalam diri saya  dalam berekonomi. Misalkan saja antara berdagang dan berbisnis, ternyata keduanya memiliki mindsite yang berbeda. Kalau mindset dalam berdagang yang penting asal untung, kalau tidak untung ya yang penting tidak rugi.  Sedangkan mindset sederhana dalam berbisnis menggunakan skala atau target keuntungan. Kedua hal tadi memiliki perbedaan mindset sekaligus perbedaan implementasi atau aplikasinya di lapangan. Selain mengutarakan perbedaan mindset tersebut, Mas Arsanto, mengusulkan materi pada sesi selanjutnya fokus pada penggalian potensi yang dimiliki dari setiap jamaah. Dan setelah potensi dari setiap jamaah sudah terpetakan baru dibentuk kelompok atau kelas sesuai potensi yang dimilik dari setiap jamaah.

Dari ketiga fasilitator tersebut, beberapa kali mereka mengajak para jamaah yang hadir untuk merefleksikan kegiatan ekonomi yang pernah atau yang sedang jamaah lakukan. Misalnya saja Kang Imam Bejog yang menceritakan kendala-kendala usaha madunya saat ini. Atau dari Mas Toni yang menceritkan uang hasil usaha chlotingannya yang seolah-olah bablas entah kemana. Dari hasil refleksi usaha yang dilakukan sedulur-sedulur jamaah yang hadir dalam forum tersebut, para fasilitator coba membantu mengurai atau mencari kesalahan dalam menajemen usaha yang dilakukan.

Sembari mendengarkan uraian para fasilitator tentang kesalahan manajemen usaha dari para jamaah yang bercerita usahanya. Saya juga mencoba merefleksikan tentang kegagalan usaha yang pernah saya lakukan semasa masih menjadi mahasiswa maupun setelah lulus kuliah. Dari hasil refleksi tersebut, saya menemukan faktor kenapa usaha saya selalu gagal. Selain kurang sabar, tekun dan giat, ternyata perencanaan yang kurang matang menjadi salah satu faktor atas kegagalan usaha saya tersebut. Seperti halnya yang diutarakan Mas Arsanto, bahwa gagal dalam merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan.

Pada sesi awal sinau bareng ekonomi ini, kalau boleh saya bilang sebagai pelurusan paradigma atau mindset dalam berekonomi terutama bagi jamaah Maiyah Suluk Surakartan yang hadir di minggu pagi itu.  Jika dulu ketika kita dalam berusaha motifnya ialah keuntungan saja. Sebagai jamaah Maiyah yang telah mendapatkan berbagai nilai-nilai Maiyah. Maka seyogyanya dalam berusaha motif keuntungan bukan menjadi hal yang utama. Akan tetapi motif pengabdian kepada Gusti Allah menjadi prioritas utama. Yang terpenting kita telah berusaha semaksimal mungkin, terkait hasilnya biarkan menjadi urusan Gusti Pangeran beserta para stafnya, begitulah uraian dari Cak Har.

Dalam hal apapun di dunia ini, kita tak bisa terlepaskan dari Kanjeng Nabi Muhammad sebagai panutan kita. Sebagai umat Islam yang ingin selamat dunia akherat kita harus senantiasa menauladani kehidupan beliau. Terutama dalam hal berekonomi. Selain sebagai pemimpin umat, beliau juga seorang saudagar yang sukses. Kesuksesan beliau dalam berusaha tak terlepaskan dari kejujuran, etos kerja yang tinggi, tanggung jawab dll.  Maka umat islam yang pengen sukses dalam hal ekonomi, ya seharusnya mencontoh atau melaksanakan nilai-nilai tersebut.

Diakui atau tidak, disadari atau tidak, keberhasilan dalam berusaha saudara-saudara Tionghoa yang ada di Indonesia saat ini, karena mereka mengimplementasikan sebagian dari nilai-nilai Kanjeng Nabi Muhammad dalam berusahan. Namun kita yang mengaku umat beliau, malah sering tidak mencontohnya. Maka dari itu, mari kita bersama-sama mempelajari dan contoh tauladan kita dalam berekonomi.

Wahyudi Sutrisno

Tulisan terkait