Menu Close

Bardan dan Simbah

6Shares

Suatu sore, saat Simbah duduk leyeh-leyeh di gardu, tiba-tiba si Bardan datang menghampirinya.

“Mbah-mbah, kemarin si Kacong bikin ulah!”

“Bikin ulah apa?”

“Masak jam dua siang dia adzan Mbah, sontak saja saya dan orang sekampung datang ke Masjid, si Kacong kena semprot deh, dasar bocah gendheng.”

“Kamu itu yang gendheng.”

“Lohh, kok malah aku yang dikatain gendheng, kan yang adzan ngawur itu si Kacong, Mbah, bukan saya.”

“Kenapa pas Kacong adzan jam dua siang kalian malah berbondong-bondong datang ke Masjid. Tapi giliran si Kacong adzan Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya’ dan Subuh kalian semua pada ngumpet ndak kelihatan batang hidungnya! Siapa kira-kira yang lebih gendheng Bar, si Kacong apa kalian?”

“Yaa…nganu Mbah (garuk-garuk kepala)”

“Nganu siapa..?!

“Ngaa…nganu Mbah, siapa ya, kok saya jadi bingung.”

“Bar, banyak orang di masyarakat kita sekarang yang jauh lebih fokus pada sesuatu yang keliru. Mereka asyik membicarakan aib seseorang. Mereka sibuk memikirkan dan membahas hal-hal yang negatif yang ada di sekitarnya. Namun mereka lupa untuk berbuat baik, mereka malah alergi jika melihat atau mendengar segala hal yang positif dan membangun.”

“Hening (Bardan mengelap keringat)

“Bar, mungkin Kacong khilaf, ndak sengaja. Habis sholat Dhuhur ia tidur, bangun-bangun langsung adzan, di kiranya sudah masuk waktu Ashar, maafkanlah dia.”

Njih Mbah, ngapunten saya yang salah, kemarin sudah marah-marah dan nyeneni si Kacong.”

“Jangan gampang menyalahkan orang lain. Diteliti dulu apa sebenarnya yang terjadi. Jangan langsung pakai emosi. Kalau pancen salah ya ditegur baik-baik. Islam itu agama yang santun.”

Njih mbah, sepurane.”

“Semua orang pernah salah Bar, akan lebih baik kita merasa salah daripada merasa diri kita ini benar. Dengan begitu kita akan jadi manusia yang andhap ashor. Ora kemaki, ora mbagusi.

(Bardan tertunduk, seraya mencium tangan Simbah lalu pamit pulang)

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait