Menu Close

Memupuk Adab Menuai Kemuliaan

0Shares

Produsen mobil papan atas semacam Aston Martin dan produsen-produsen barang papan atas lainnya memiliki berbagai prasyarat ketat ketika merekrut karyawan. Aslinya secara simple, owner menginginkan karyawan mampu menangkap secara utuh apa yang diinginkannya.

Jangan lupa, kita bisa menikmati, mengagumi, bahkan fanatik kepada iPhone atau Harley Davidson dengan teknologinya yang terbilang sederhana karena hanya sekelas Honda tahun 80-an adalah karena para karyawan dan staff mampu menangkap utuh dan bekerja keras mewujudkan visi ide dan maksud ownernya.

Demikian pula manusia. Apa yang dilakukan setiap hari adalah apa yang dia tangkap tentang maksud, ide dan tujuan sang Maha Kreator. Hidup sehari hari dengan segala kejadiannya selayaknya menjadi “alat” dan “bahan” untuk menjernihkan setahap demi setahap cara pandang dan sikap kita akan maksud tujuan dan ide Sang Kreator.

Bahan dasar manusia memahaminya adalah dengan apa yang disebut “rasa”. Secara sederhana seseorang yang memiliki “rasa” atau sementara kita sebut “perasaan” halus memiliki kemampuan menangkap sesuatu “pesan” tidak hanya verbal atau text, tetapi bisa menangkap jauh lebih kaya dengan hanya melihat simbol, gerakan, gestur, bahkan “aroma”.

Tuhan menyampaikan pesan secara resmi dengan sebutan wahyu, bahkan kepada lebah pun “diwahyukan”. Tetapi kita harus paham juga bahwa ciri alam semesta memiliki tingkatan. Demikian pula tingkatan tingkatan “pesan” Tuhan sangat beragam. Yang hanya bisa ditangkap oleh kita sebagai kategori manusia biasa adalah apa yang paling mudah dan familier berada di sekitar kita. Tidak mungkin seseorang bakul tape ketan diberi pesan dengan simbol algoritma rumit atau angka-angka berjibun.

Akurasi persepsi cenderung “utuh” apabila syarat “rasa” yang bersanding dengan adab, sopan santun, etika, tepo sliro, andhap asor bertumbuh secara wajar. Bukan secara syarat disepakati oleh kelompok, misal keilmuan, kebersihan, spiritual, laku dan lain lain. Maka sering Tuhan memberikan antitesis kasat mata. Yang tampak oleh mata mungkin tidak memenuhi syarat tertentu. Tetapi ternyata yang bersangkutan justru sumber banyak hal yang menentukan.

 

Munir Asad

Tulisan terkait