Menu Close

Hadiah atas Keringat, Lapar, Dahaga

0Shares

Tetiba saya tergugah untuk menulis kisah seorang anak. Anak kelas 6, salah satu siswa SD Negeri Gemolong (eks. SBI), Sragen. Di sanalah anak tersebut sehari-hari belajar menuntut ilmu, dan di sana pula saya setiap hari mengajar bidang studi. Anak tersebut bernama Dyah Ayu Cindrawati. Akrab dipanggil Ayu.

Ayu lahir pada tanggal 14 Agustus 2006 di Desa Karang Talun, kec. Tanon, kab. Sragen, 12 tahun silam. Terlahir dari keluarga yang sederhana dan religius. Sejak kelas 3 SD, atau usia 9 tahun, Ayu sudah yatim. Ayahnya yang seorang tentara meninggal ketika ada insiden ledakan di gudang mesiu (senjata), yang pada saat itu ayah Ayu tengah berjaga. Paska ditinggal ayahnya tersebut, Ayu sempat drop. Down, murung, minder dan sering sakit-sakitan. Akibatnya ia jarang masuk sekolah. Ketinggalan materi pelajaran, dan otomatis nilainya turun drastis. Kejadian itu cukup berlangsung lama. Sampai naik ke kelas empat.

Show must go on. Hidup harus terus berjalan. Pihak sekolah dan keluarga Ayu wa bil khusus Ibunya, terus menemani dan mendampingi hari-hari pilu Ayu. Keduanya bersinergi  memotivasi Ayu agar kembali tersenyum. Kembali semangat. Kembali aktif masuk sekolah. Seiring waktu, psikis Ayu perlahan-lahan membaik. Ia kembali ceria, semangat, lebih berani, dan mandiri.

**

Kisah heroik terjadi beberapa waktu lalu. Dimana Ayu berhasil mengukir prestasi gemilang. Tepatnya pada hari Selasa (24/4/2018), Ayu menjadi juara 1 pada gelaran Popda (Pekan Olahraga Pelajar Daerah) SD/ MI/ Sederajat cabang Taekwondo tingkat provinsi Jawa Tengah. Ayu berhasil menyabet medali emas setelah unggul angka atas lawannya asal Cilacap pada partai puncak. Haru. Membanggakan. Mengharumkan nama, keluarga dan sekolahnya.

Sebelumnya, Ayu telah mewakili kecamatan Gemolong maju di tingkat Kabupaten Sragen dan menang. Selanjutnya Ayu bertarung di tingkat karisidenan Surakarta, menang lagi. Kemudian Ayu dikirim untuk berduel di tingkat provinsi. Puji Tuhan, Ayu tampil sangar, beringas, dan melibas satu demi satu lawan-lawannya. Medali emas berhasil ia genggam. Kabarnya, ada wacana Ayu akan dikirim untuk mengikuti Popda Taekwondo tingkat Nasional. Patut ditunggu.

**

Apa yang telah diraih Ayu, layak dipuji dan diapresiasi tinggi. Sebuah pencapaian yang tak terduga. Melampaui ekspektasi. Lha wong jadi juara tingkat kabupaten saja sudah luar biasa Alhamdulillah. Apalagi juara tingkat provinsi. Bak mimpi yang terbeli. Dream come true.

Prestasi (medali emas) gemilang yang Ayu torehkan tidak diperoleh dengan mudah. Tidak instan. Ada proses panjang yang telah dilalui. Menurut penuturannya, Ayu mulai suka dan mengikuti ekstra Taekwondo di sekolah sejak kelas tiga. Sejak ia bangkit dari keterpurukan ditinggal ayahnya. Selain rutin seminggu sekali ekstra di Sekolah, Ayu juga secara mandiri bergabung di salah satu komunitas Taekwondo yang ada di Gemolong. Ia berlatih seminggu tiga kali diluar. Pagi, siang, malam ia lakoni. Ayu telaten mengoptimalkan kemampuan fisiknya dengan olahraga teratur. Setiap sore ia jogging. Setiap minggu pagi ia renang. Dan setiap ada kejuaraan/ turnamen Taekwondo ia selalu ikut. Tak heran, telah banyak trofi yang ia dapatkan dan sumbangkan untuk lemari koleksi medali di sekolah.

Selain tekun berlatih, ada satu hal yang membuat Ayu terus berprestasi. Dia gemar puasa sunah senin-kamis. Dan itu ia jalani sejak naik dikelas 4.  Salut. Angkat topi saya. Khusus urusan puasa sunnah, saya kalah telak darinya. Kalau saya puasa senin-kamisnya dang tek. Naknu. Nak kelingan tok posone. Hehe. Itulah saya. Sedangkan Ayu yang notabene masih usia anak-anak, masih dibawah 13 tahun, nyatanya sangat rutin-rajin, istiqomah menjalankan ibadah puasa sunnah.

**

Puasa adalah ibadah untuk-Ku, dan AKU sendiri yang akan memberi balasannya. Demikian kata Allah. Ini sebuah hadits Qudsi yang redakturnya langsung Allah Swt, kemudian diriwayatkan oleh Nabiyullah Muhammad Saw. Jadi pengertiannya adalah barang siapa berpuasa, maka ia telah berupaya mensifati sifat-sifatNya Allah. Allah sendiri tidak makan, tidak minum dan tidak-tidak yang lain. Begitu pula saat kita menjalankan puasa. Baik sunah maupun wajib. Tidak makan dan minum sejak fajar sampai adzan maghrib berkumandang. Dengan alasan itulah maka puasa adalah ibadah spesial. Spesial di Mata Allah Swt. Bersebab spesial itulah maka Allah sendiri yang akan memberikan “hadiah” kepada hamba-Nya yang berpuasa.

**

Dua tahun terakhir ini saya berkesempatan mengajar Ayu. Yang saya kenal, Ayu anak yang kalem, pendiam, sopan, bertanggung jawab dan taat ibadah. Ngajeni gurunya dan baik kepada teman-temannya. Di rumah ia tinggal bersama ibu dan dua adiknya. Dialah yang membantu membereskan segala pekerjaan rumah, bahkan turut serta mencari nafkah. Tiap ke Sekolah, ia membawa kue kering hasil kreasi tangannya sendiri, lalu dijual kepada teman-temannya.

Dapat dibayangkan, betapa mulianya seorang anak perempuan kelas 6 SD, yang yatim, yang taat ibadah, yang hobi puasa sunah, yang tangguh, yang mandiri, yang bercita-cita jadi Tentara (meneruskan pengabdian ayahnya), yang terus berlatih dan berjuang mengukir prestasi. Menyaksikannya, saya mbrebes mili.

Prestasi yang berupa medali, piagam, piala, sertifikat, uang dll itu hanyalah efek. Efek dari akumulasi kerja keras, kristalisasi keringat, airmata plus lapar-dahaga (puasa). Dan Ayu telah persembahkan itu semua. Tak ayal, Tuhan lantas menggganjarnya dengan hadiah gelar Juara.

Selamat!

Gemolong, 30 April 2018

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait