Menu Close

Tadabbur Gelap-Terang

18Shares

Apa yang ada dalam benak ketika saya berkata hitam?

Setiap orang tentu akan punya jawaban berbeda tergantung representasi hitam terhadap input informasi yang tumbuh dan berjejal menjadi alur pikiran lalu mengkotak menjadi dimensi pemahaman seseorang.

Ada banyak jawaban bisa membicarakan kegelapan, warna tulisan ini, atau slogan seperti habis gelap terbitlah terang.

Di luar sana dalam sebuah iklan selalu didengung-dengungkan teknologi baru yang ketika teknologi lain berlomba-lomba memperbanyak warna dalam sebuah layar, vendor ini justru menambahkan intensitas warna hitam dalam teknologi layar mereka,  dan hasilnya memang memukau, karena hitam warna lain terlihat begitu hidup, sebuah kontradiksi yang menjadi teknologi. Menarik memang untuk diamati.

Hitam, seringkali orang menyebutnya sebagai kegelapan, tidak ada cahaya. Namun ketika saya berusaha mengenali kembali ternyata kegelapan itu tidak ada, konsep dasar darkness adalah the absence of light , absennya cahaya tentu akan berbeda dengan tidak ada. Gambaran gampangnya seseorang yang absen tidak masuk sekolah, akan berbeda dengan anak tersebut tidak sekolah.

Kegelapan hadir sebagai bukti terbatasnya indera manusia, dan sekali lagi manusia harus mengakui ketidak sempurnaannya. Meski jika dipaksa didebatkan akan dibalas dengan berbagai teknologi yang dibuat manusia untuk memecahkan kemampuan menangkap cahaya tersebut. Teropong night vision atau cctv inframerah misalnya adalah salah satu invention manusia dalam menjawab keterbatasannya terhadap absennya cahaya.

Bagi masyarakat yang sering nyepi tentu akan sangat tahu perbedaan dimensi kegelapan, terserah apapun lakunya, bisa bertapa, semedi, kungkum¸atau sekedar mancing pasti mata mereka terasah untuk lebih jeli menangkap cahaya di kegelapan. Di situ indera mereka diasah untuk peka terhadap sekeliling, bahkan termasuk mahkluk-mahkluk dari dimensi tertentu.

Paradoks memang akhirnya, setiap kegelapan adalah latihan peka terhadap cahaya, over lighting pun terpaksa melatih mata kita untuk mengurangi intensitas cahaya, menutupinya entah dengan kacamata atau sekedar tangan. Manusia terus bergaung-gaung gelombangnya, memadat – meruang dengan berbagai dialektika paradoksnya.

Jika mundur lagi pun, saya sebagai pendaki gunung pun akan bisa bercerita banyak bagaimana tumbuhan bergerak kearah matahari (Cahaya) membimbing mereka, bagaimana mereka melesat menjulang, kadang berdesakan untuk sekedar mendapat cipratan cinta-Nya lewat sang surya. Atau absence of light  adalah waktu terbaik bagi mahkluk nocturnal berburu melangsungkan hidupnya, dan dari hitamnya malam kita manusia justru mampu menangkap rentangan galaxy milky way yang semakin pepat malam hasilnya akan lebih jernih, sekalipun mata telanjang tak mampu menangkapnya, namun teknologi mengejarnya.

Manusia dalam perkembangan peradabannya sebisa mungkin menembus batasan-batasannya, termasuk terhadap cahaya, semuanya bergerak karena cahaya, terbangun hidup menjalani aktivitas karena cahaya, terlelap dan lelah pun ketika cahayanya meredup, meski anomali nocturnal juga terasa tak hanya hewan namun manusia malam juga mencahayai dirinya sendiri dipepatnya malam.

Semua tergerak menuju inti dari semesta yaitu Cahaya diatas Cahaya. Tinggal bagaimana kita merefleksikannya, hitam yang kegelapan ternyata bukanlah sebuah ketakutan seperti yang ditakutkan anak-anak kita. Justru dari malam-malamnya ada banyak obrolan, gurauan, bahkan diskusi serius menyoal bagaimana mewujudkan adanya cahaya-cahaya ‘substansial’ yang bermanfaat bagi semesta sesama, sebagaimana kewajiban kita semua manusia.

Lalu hitam yang dianggap sebagai negasi dari terang, menjadi tringger penentu jumlah cahaya, justru karena hitamlah manusia bisa membedakan mana terang, mana yang samar dan mana yang gelap meski gelapnya ini juga bisa diterawang lebih mendalam.

Mbah Nun berkali-kali dalam suluknya lingsir wengi tan kendhat seperti mengisyaratkan bahwa kegelapan yang sangat pepat, entah dari dimensi mana kita melihat kegelapan dalam tembang  tersebut, yang jelas lingsir wengi adalah batas dan selangkah lagi bang-bang wetan  itu akan bersinar menyiratkan kaca benggalan zaman baru. Anak-anak saya yang berlatih berkegiatan speologi dipepatnya gua juga akan memahami betul bagaiman manusia juga sangat punya refleks terhadap cahaya. Dan justru pengenalan akan kegelapan itu menjadikan mereka sangat menghargai cahaya.

Ulang-alik kesadaran, terus menerus mengajar jalma untuk menghargai akal, jaman segera berubah banyak sekali kegelapan akan datang dipenghujung jaman, namun seberapa siap indera menafsirkannya sebagai sebuah terobosan, atau malah justru jatuh kelubang-lubang yang lebih kelam hingga manusia menemukan batas kejeliannya terhadap kegelapan. Tinggal bagaimana mata sang jalma diasah menjawab dan menelisik jaman.

Seperti lirik band Down For Life  : “Terbanglah-terbanglah tinggi menuju matahari, “

Selamat melangkah menafsiri berbagai tingkat kegelapan, selamat berburu terang.

 

Kleco Wetan, 08 Mei 2018

Indra Agusta

Tulisan terkait