Menu Close

Bak Truk dan Dakwah bil Hikmah

18Shares

Kadang geli, melihat tulisan-tulisan besar yang terpampang di bagian belakang bak-bak Truk yang tengah melintas di jalan. Semisal ada tulisan yang berbunyi ;

“Pergi dicari, pulang dimarahi

Cintamu tak seberat muatanku”

Atau

“Dua anak cukup, dua istri bangkrut”

Ada yang agak konyol namun faktanya memang demikian.

“Ya Allah jauhkanlah kami dari Ibu-ibu pakai motor yang lampu sen-nya ke kiri tapi beloknya ke kanan.”

Bahkan ada yang lebih parah lagi membuat tertawa terbahak-bahak. Yang ini khusus untuk orang dewasa.

“Dah lama gak gitu, eh pas gitu gak lama”

Bagi anda yang berusia 18+ atau yang sudah menikah, pasti paham maksud tulisan di atas. You know lah ya… (Haha)

Selain geli dan membuat tertawa, ada juga tulisan-tulisan di belakang bak-bak Truk yang sarat pesan moral. Seperti ;

Ora perlu tenar

Ora perlu sangar

Sing penting rezeki lancar

Terjemahan bebasnya adalah; Tidak perlu terkenal, tidak perlu hebat, yang penting rezeki lancar. Kalimat ini menjadi reminder bagi kita sekaligus doa, bahwa menjadi orang hebat dan terkenal itu bukan tujuan pokok/ utama dalam hidup manusia. Asalkan rezeki lancar maka hidup manusia InsyaAllah akan terasa cukup dan bahagia.

Ada lagi yang berbunyi ;

 “Ngurusi sing dudu urusane awaké dewe, marai mumet dewe”

(Mengurusi yang bukan urusan kita sendiri, membuat kita pusing sendiri)

Kalimat ini cukup menohok. Paling tidak buat diri saya. Coba perhatikan! Dan lihat baik-baik disekitar kita. Sekarang ini, jamak terjadi di kalangan masyarakat kita, dimana banyak orang yang ikut campur, turut membicarakan, menilai, berkomentar, mengkritik, menanggapi, bahkan menjudge seseorang/ sesuatu yang sebenarnya itu bukan urusannya. Bukan kapasitasnya.

Contoh. Tidak pas apabila seorang dokter mengurusi tentang arsitektur bangunan sebuah gedung. Tidak pantas seorang ahli tata boga mengkritik montir bengkel mobil. Tidak elok seorang awam menyangkal (merendahkan)  kealiman seorang Kiai. Tidak apik pula seorang politisi menganalisa sebuah karya puisi. Semua ada maqom-nya. Punya kemampuan dan keahlian masing-masing.

Sampai disini paham ya maksud saya. Maksudnya, jika anda dokter tidak usah repot mengurusi tentang arsitektur bangunan. Yang paham tentang arsitektur ya arsitek. Biar sang arsitek yang memikirkan dan mengurusinya. Begitu juga politisi, salah besar jika memaknai atau menafsirkan sebuah puisi dengan memakai kacamata politik. Tidak akan ketemu dan tahu apa sebenarnya isi kandungan puisi tersebut. Yang lebih paham dan peka tentang puisi (karya sastra) tentu seorang penyair/ sastrawan.

Nah, yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Sering terjadi percekcokan, pertengkaran, fitnah, petisi, dan saling menghujat satu sama lain. Baik di lini masa maupun di dunia nyata. Banyak sekali orang yang sok pintar. Sok tahu. Sok paham. Dan sok-sok yang lain. Kalau ndak paham mending diam. Kalau tidak tahu ya jangan usul. Kalau bukan wilayahnya ya jangan masuk. Kalau memang tidak punya keahlian pada bidang A, ya jangan membicarakan tentang A. Kalau tidak miliki wewenang disana, ya jangan sekali-kali memutuskan keputusan disana. Simple kan. Gitu aja kok repot.

Manusia era sekarang, termasuk saya mungkin, banyak sekali yang mengalami krisis kesadaran. Tidak sadar dan tidak peka tentang siapa dirinya. Tidak bisa menahan diri. Tidak mampu menempatkan diri. Tidak tepat presisi. Jadinya lupa diri.

Berbicara dan berbuatlah yang benar-benar kita ketahui. Sesuai batas ukuran dan kemampuan nalar-ilmu kita. Diluar sepengetahuan kita, hendaknya jangan ikut-ikutan bicara. Apalagi bersikap. Sebab ucapan atau tindakan yang kita lakukan tanpa dasar yang kuat, tanpa ilmu yang akurat, tanpa cek dan ricek, tanpa reserve, maka akan berpotensi besar menimbulkan miss, salah persepsi, fitnah dan konflik.

Sekali lagi, jangan mengurusi urusan yang bukan urusan kita. Jangan komentar jika kita tidak paham betul duduk permasalahan-nya. Jangan pula gampang untuk menuduh, menyalahkan, serta menghakimi suatu perkara tanpa terlebih dahulu melakukan kroscek luar-dalam, penelitian dan analisa secara detail dan kompatibel.

***

Kembali ke bak Truk. Eh, maksud saya ke topik awal. Tulisan-tulisan yang terpampang di bak-bak Truk tersebut, nyatanya tak selalu berisi muatan humor, jenaka atau guyonan khas ala orang jalanan (sopir). Namun ada sebagian materi tulisan yang berisikan wejangan atau pesan moral. Meski kemasan bahasa dan kalimatnya terkesan sederhana, namun jika dicermati lebih dalam, ternyata penuh makna. Itu tergantung tingkat kepekaan siapa yang membacanya. Andai peka, kalimat sepotong ini ;

“Ngurusi sing dudu urusane awaké dewe, marai mumet dewe”

akan menjadi ilmu. Namun jika tidak peka, tidak memiliki daya tangkap yang kuat, maka hanya akan jadi angin lalu.

**

Dakwah itu Mengajak

Apa yang dilakukan para Sopir, yakni membuat tulisan-tulisan dibelakang bak Truk, baik sengaja atau tidak sengaja, sadar atau tidak sadar, langsung atau tidak langsung, pada hakikatnya mereka telah berdakwah. Eits, sebentar. Emang dakwah itu apa tho? Kok bisa-bisanya para Sopir Truk di anggap telah melakukan dakwah.

Menurut Simbah guru Emha Ainun Nadjib, ada dua pengertian tentang makna Dakwah. Secara harfiyah (etimologis), dakwah berakar dari kata da’a- yad’u- da’watan (bahasa Arab) artinya ”mengajak” atau ”menyeru”. Sedangkan pelakunya disebut Da’i (pendakwah).

Secara terminologis, dakwah artinya mengajak atau menyeru manusia agar menempuh kehidupan ini di jalan Allah Swt, berdasarkan ayat Al-Quran dan sunnah.

“Serulah oleh kalian (umat manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka secara baik-baik…” (QS. An-Nahl (Lebah): 125).

Setiap perkataan, pemikiran, atau perbuatan yang secara eksplisit maupun implisit mengajak orang ke arah kebaikan (dalam perspektif Islam), perbuatan baik, amal saleh, atau menuju kebenaran dalam bingkai ajaran Islam, hal tersebut dapat disebut dakwah.

Dakwah juga banyak sekali ragamnya. Dapat dilakukan dengan berbagai cara dan media. Jika model dakwahnya seperti ceramah, kultum, pengajian, khutbah Jum’at, maka cara tersebut termasuk Dakwah lisan atau disebut Dakwah Bil Lisan. Sedangkan dakwah yang berupa aksi/ tindakan nyata seperti pendirian Lembaga Pendidikan Islam (Ponpes), LAZIS (Layanan Amil Zakat Infak dan Sodaqoh), Program khitan massal, Bakti Sosial, dll, yang demikian itu dinamakan Dakwah Bil Hal. Nah, kalau dakwah yang dilakukan menggunakan tulisan-tulisan pada media buku, kitab, koran, buletin, blog, medsos, tembok, plang, baliho, spanduk, brosur, begitu juga pada bak-bak Truk, maka dakwah tersebut termasuk kategori Dakwah Bil Qolam.

Dari penjabaran singkat diatas, maka para sopir Truk yang menampilkan tulisan-tulisan dibak-baknya yang berisikan ajakan/seruan ke arah kebaikan, atau paling tidak memberi pencerahan bagi yang membacanya, maka secara otomatis para Sopir tersebut telah berdakwah. Dakwah Bil Qolam tepatnya (Dakwah dengan media tulisan). Dan mereka layak disebut pendakwah alias Da’i.

Jadi, benang merah/ inti sari dari sebuah Dakwah terletak pada ghirrah (kemauan), semangat untuk mengajak. Mengajak lho ya, bukan memaksa. Kalau mengajak itu tidak ada unsur paksaan. Misal, anda mengajak saya untuk makan di rumah anda, tetapi saya tidak mau, ya sudah, jangan dipaksa. Dirayu, diiming-imingi boleh, tapi diancam jangan! Dakwah itu mengajak ke arah kebaikan, dan menggunakan cara yang baik pula. Itulah makna dakwah.

Hal tersebut senada dengan yang dikemukakan oleh salah satu Ulama besar kita yang sekaligus Rais Aam PBNU yakni Romo KH. Ahmad Musthofa Bisri. Gus Mus, begitu beliau akrab dipanggil, kerap menyampaikan ceramah tentang apa itu dakwah dan bagaimana cara berdakwah. Dalam berdakwah, panutan dan teladan terbaik kita tidak lain adalah Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Dan kita harus mencontoh segala yang diajarkan Rasulullah dalam berdakwah.

Menurut Gus Mus, Allah Swt menyuruh Nabi Muhammad di dunia ini untuk Ruhud Dakwah. Mengajak/ menyeru manusia untuk menuju jalan kebaikan (jalan Tuhan). Mengajaknya pun dengan cara yang baik. Sopan, santun, lembut, merangkul, tanpa paksa dan ancaman. Sebab Rasulullah diutus membawa panji Rahmatan lil ‘alamin. Menyayangi meski ditolak, mencintai meski dihina, merahmati meski dilecehkan- dibenci- dimusuhi. Intinya Muhammad terus mengajak umat ke arah kebaikan dengan berbagai cara dan metoda.

Sederhananya, hari ini mengajak sholat tidak mau, besok diajak lagi. Besok tidak mau, lusa dirayu lagi. Lusa belum mau juga, esoknya diajak lagi, lagi, lagi dan lagi. Begituuu seterusnya… Sampai kemudian, hati mereka terbuka dan Allah menuntunnya untuk bersedia sholat.

**

Pada akhirnya, siapa-pun saja bisa menjadi pendakwah. Entah itu kiai, ustadz, ulama, guru, dokter, gubernur, presiden, artis, seniman, tukang siomay, tukang pijet, sopir Truk dan  profesi apapun. Berdakwah juga dapat dilakukan dengan berbagai cara dan media.

Selama bak-bak Truk itu dihiasi dengan tulisan-tulisan yang positif, membangun, mengingatkan, dan menyeru pada kebaikan. Selama itu pula para pengemudi Truk tersebut telah menjalankan visi Dakwah. Begitu juga kalau sepanjang usia kita, kita gunakan untuk mengajak liyan ke arah kebaikan. Tak ubahnya kita adalah sang juru Dakwah.

Takbir…!!! (Dalam hati)

 

Gemolong, 10 Mei 2018

 

Muhammadona Setiawan

 

 

Tulisan terkait