Menu Close

Festival Suronan, Menjaga Tradisi Merajut Persaudaraan

0Shares

Deretan bendera merah putih terus berkibar dihembus angin, ketika rombongan jamaah maiyah Suluk Surakartan memasuki jalan desa menuju pendapa Majelis Sunan Gunung Jati. Pendapa milik Habib Muhammad Asyhari Adzomat Khon atau yang dikenal dengan Sri Narendra Kalaseba tersebut tampak ramai dipadati oleh masyarakat.

Malam ini adalah puncak acara perayaan tahun baru Jawa-Hijriyah atau Festival Suronan dirayakan dengan pagelaran Wayang Kulit dengan dalang Ki Danang Mantep Suseno, putra dalang legendaris asal Karanganyar Ki Mantep Sudarsono. Siang tadi telah digelar karnaval budaya yang terdiri dari kirab pusaka, pagelaran seni dan parade drumband.

Festival Suronan ini terdiri dari rangkaian kegiatan diantaranya pentas Karawitan, pentas musik rock “Rock in Lesehan”, tasyakuran awal tahun, dan karnaval budaya yang dipuncaki oleh wayang kulit ini. Namun sebelum wayang kulit dimulai, perwakilan jamaah maiyah Suluk Surakartan diminta untuk membuka dengan serangkaian pagelaran.

Mas Toni, salah satu penggiat mengawali sambutannya dan memperkenalkan dua sesepuh yang turut hadir malam ini, Pakde Herman dan Pak Munir Asad. Selanjutnya mas Suryadi Plenthe dan mas Prisha menampilkan kolaborasi apik antara perkusi dan biola dengan iringan musik yang dinamis. Para hadirin pun menikmati pementasan itu dengan khidmat. Mas Toni kemudian mengajak hadirin sekalian untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad.

Selanjutnya Pakde Herman menghaturkan “kula nuwun” kepada hadirin sekalian, karena jamaah maiyah Suluk Surakartan adalah tamu. Kemudian beliau mengajak hadirin untuk merefleksi tentang tantangan masa depan kebudayaan Jawa. Dakwah Islam yang telah mewarnai Jawa berabad-abad lamanya kini mengalami sebuah keretakan akibat adanya pihak-pihak yang ingin memisahkannya kembali.

Ada segolongan umat Islam yang menafikan realitas kebudayaan Jawa, padahal kita adalah orang Jawa. Akibatnya, ada orang-orang yang kuat denga Jawanya pun menjauh dari Islam. Maka dari itu, beliau mengajak hadirin semuanya untuk selalu menjaga persaudaraan dan melanjutkan tradisi yang sudah dituntunkan para wali. Sebagaimana kalau beliau menyapa jamaah maiyah setiap bulan, pada akhir kalam beliau kembali nembang Dhandhanggula. Kali ini, beliau membawakan “Kidung Rumeksa ing Wengi” yang diyakini dibuat oleh Sunan Kalijaga.

Pada bagian akhir, Pak Munir Asad turut memberikan sambutan dan memperkenalkan putranya, Einstein untuk membawakan Kidung Wahyu Kalaseba karya Habib Asyhari. Di tengah Einstein melantunkan kidung, Habib Asyhari keluar dan memberikan apresiasi kepadanya. Tak hanya itu, setelah kidung selesai, Habib menyampaikan rasa gembiranya bahwa masih ada anak-anak muda yang mau melestarikan budaya Jawa salah satunya melalui seni. Perwakilan jamaah maiyah pun mundur dan pagelaran wayang kulit siap dibuka.

Habib Asyhari pun memimpin wirid pembukaan sembari menunggu kehadiran Ki Danang. Para wiyaga pun mulai menabuh gamelan. Dari kejauhan tampak pasukan reog mengiringi perjalanan rombongan sang dalang memasuki panggung. Setelah melepas ki Danang dan rombongan ke panggung, para reog pun beratraksi di depan para hadirin di bawah iringan musik reog dan tetabuhan gamelan para wiyaga.

Mengawali pagelaran, Habib Asyhari menyerahkan wayang Bima sebagai tanda bagi ki Danang untuk membawakan lakon “Wahyu Kartika Jayadaru atau Pandawa Ruwat”. Lakon ini dipilih karena malam jumat kliwon ini bertepatan dengan runtuhnya Majapahit yang ditandai dengan candra sengkala “Sirna Ilang Kertaning Bumi”. Pagelaran pun dimulai.

Tulisan terkait