Menu Close

Setapak Remang-Remang Menuju Kebeningan

0Shares

Semalam tadi ketika masuk gang samping Apotik Kimia Farma Laweyan menuju venue Kali Jenes Festival, gang tersebut terlihat gelap, lampu-lampu penerangan jalan seperti sengaja dimatikan, diganti dengan penerangan obor-obor  kecil yang ditancapkan setiap jarak 2 meter, setinggi kurang lebih 1 meter. Meski ada obor tetap saja masih gelap. Apalagi lampu motor saya pas lagi pedhot juga, agak  gelap-gelapan jadinya.

Masuk menyusuri gang sepanjang 100 meter dalam keremangan tersebut, ketemulah dengan  perempatan kecil yang sudah ditunggu beberapa pemuda dengan atribut panitia untuk mengarahkan lokasi parkir motor. Oke, saya belok kiri sesuai arah yang ditunjukkan  salah seorang pemuda tersebut menuju ke sebuah halaman yang lumayan luas dan terang.

Jam setengah sembilan lebih, saya melihat penunjuk waktu di sudut kanan atas handphone saya setelah selesai memarkirkan kendaraan. Dari kejauhan terdengar samar-samar suara musik dari panggung. Rupanya saya sudah terlambat. Sambil jalan agak bergegas menuju sumber suara tadi dan mengambil sebatang rokok lalu disumet dengan Zippo, “cling.. jress”.

“Mas, lewatnya ke arah sini, nuruti lampu  thinthir niku njih ” kata seorang pemuda dengan atribut panitia, yang sepertinya bertugas untuk mengarahkan  jalan bagi para pengunjung yang tiba dari arah parkiran kendaraan. Lampu thinthir tadi maksudnya obor itu, karena saya lihat di ujung obor tadi adalah lampu thinthir handmade, yang memanfaatkan botol bekas minuman multivitamin yang diisi minyak dan diberi sumbu.

Arah yang ditunjuk adalah gang kecil diantara dua rumah, lebih kecil dari gang depan tadi, seukuran dua  tubuh manusia dewasa kalau berjajar, dan hanya bisa dilewati dengan jalan kaki. Lebih tepatnya disebut jalan setapak kalau menurut saya.

Menyusuri jalan setapak yang remang-remang dengan hanya penerangan obor-obor kecil seperti di gang depan tadi, sambil menghisap rokok, ternyata saya tidak sendiirian. Ketika menengok ke belakang, sekitar 5 meter ada tiga orang pengunjung yang juga mau menuju venue, lalu di depan saya agak jauh sekitar 15 meter  ada dua orang pemuda dan pemudi yang berjalan sambil foto-foto.

Arah jalan setapak berkelok-kelok dan sedikit naik turun, karena berada diantara rumah-rumah warga yang sangat berdempetan, dan jalan setapak yang diterangi obor-obor kecil itu ternyata menuju ke halaman belakang rumah lalu turun menuju pinggiran Kali Jenes dan menyusuri pinggiran sungai tersebut.

Sepanjang menyusuri jalan setapak pinggiran kali terbuat dari bambu-bambu yang sudah ditata sedemikian rupa sehingga menyerupai jembatan, di depan saya yang agak jauh tadi terlihat masih asyik dengan mengambil foto-foto pemandangan sungai malam hari dan lampu-lampu hiasnya . Dan saya tergoda pula untuk memvideokan perjalanan di sepanjang jalan setapak di pinggiran Kali Jenes tersebut, lumayanlah buat isi video di Insta Story. Meskipun saya yakin, yang menonton video tidak bisa merasakan bau bahan kimia yang menyengat dan melihat warna hitam membirunya air sungai lewat layar handphone, apalagi kamera HP saya kurang tajam untuk situasi malam hari dan low light. Karena saya tau kawasan sungai tersebut memang airnya tampak gelap pekat kalau siang hari.

Sumber Kehidupan Warga

Penyusuran jalan setapak yang berkelok-kelok dan naik turun tadi adalah rute memutar dari parkiran motor sampai finishnya nanti tepat di samping panggung, lalu masuk venue yang ada semacam gapura kecil semacam pintu masuk. Jarak rute tadi yang ditempuh apabila direntagkan secara lurus sekitar kurang lebih 300 meter. Lumayanlah, buat olahraga malam.

Bertemu dengan sedulur-sedulur dari Suluk Surakartan, yang rupanya sudah duluan sampai di venue,setelah puas haha hihi dan ece-ecenan akhirnya cari posisi yang enak buat duduk lesehan menikmati penampilan-penampilan dari para pengisi acara malam iini.

Saya mendengar langsung tentang Kali Jenes di masa lalu dari salah satu penampil yang berbicara di panggung, yang rumahnya juga di sekitar sini. Kali Jenes itu dulunya bening, dan ada beberapa spot di kali yang bisa digunakan untuk berenang dan tempat mandi masyarakat, dari beberapa spot yang disebut itu hanya spot kolam Pak Petruk yang saya ingat, karena nama Petruk cukup familiar. Tidak cuma mandi, tapi juga tempat mencari ikan, karena beberapa species ikan termasuk ukuran ikan yang besar juga ada.

Waktu mendengar itu, alam imajinasi saya langsung terbayang tempat yang nyaman buat tenguk-tenguk nglaras di bawah pohon di pinggir sungai, siang-siang sambil mancing lan udad-udud, kalau kepanasan tinggal nyemplung dan berendam, surgo tenan!

Apabila melihat kenyataan sungai tersebut saat ini, sungguh terbalik dari cerita masa lalu itu dan sangat mengenaskan, apalagi air sungai yang tercemar oleh limbah industri batik dan tekstil itu sudah masuk ke serapan-serapan air sumurnya warga sekitar.

Dari situlah awalnya mas Suryadi Plenthe memprakarsai adanya Festival Kali Jenes, bersama-sama warga Baron Cilik RW 06, Karang Taruna, dan disengkuyung sedulur-sedulur Maiyah Suluk Surakartan, serta partisipasi donatur-donatur. Yang bertujuan mengenalkan kepada khalayak luar, bahwa pencemaran Kali Jenes ini sangat memprihatinkan dan perlu perhatian dari pihak yang berwenang. Serta mengedukasi masyarakat dan para pengusaha industri batik dan maupun industri tekstil untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan sungai dan keanekaragaman hayati Kali Jenes.

Wirid Dzal Wabal di Kali Jenes

Acara malam ini adalah acara di hari ketiga, diisi dengan pentas seni berbagai genremusik dan merupakan puncak dari serangkaian acara yang dilaksanakan sejak tanggal 21-23 Agustus 2017. Pada hari pertama dan kedua antara lain diisi dengan workshop limbah, kelompencapir,story telling, dan ada bazar oleh warga sekitar, dan pada hari kedua kemarin malam  itu ada sholawatan dan wirid Wabal oleh sedulur-sedulur Maiyah Suluk Surakartan.

Sholawatan dipimpin oleh Kordinator Suluk Surakartan, Wasis Yuli Fadhly. Dan pembacaan Ru’us Wabal maupun wirid Wabal oleh Gus Aziz Nasihin.

“Masalah pencemaran sungai itu bukan saja masalah bagi warga Baron Cilik di RW06, ini masalah bagi seluruh manusia, masalah bagi seluruh mahluk hidup. Mereka yang disana tambah sugih, sedang kita yang disini menderita dengan limbahnya. Kepada siapa lagi harapan itu kita gantungkan selain kepada Gusti Allah. Jadi, mari kita sama-sama mohon keadilan Gusti Allah untuk menurunkan Wabal  (balasan) seadil-adilnya.”

Kurang lebih demikian kalimat-kalimat Gus Aziz yang saya ingat untuk mukadimah sebelum masuk ke ritual sholawatan dan wirid Wabal.

Kembali beningnya Kali Jenes, kembali beningnya sungai-sungai di sekiar Solo Raya adalah harapan kita semua setelah adanya Festival ini. Seperti melihat beningnya jiwa anak-anak yang membawa lilin-lilin di awal acara tadi. (Agung Pranawa)

Tulisan terkait