Menu Close

Bersyiar dengan Festival Suronan

0Shares

Setiap manusia mempunyai ekspresinya masing-masing dalam ber-Tuhan. Entah itu melalui budaya, pendidikan, politik dan lain sebagainnya. Menjadi hal yang jamak ditengah masyarakat kita, bila diketemukan beraneka ragam ekspresi dalam ber-Tuhan. Pengaruh sosio-kultural masyarakat kita yang majemuklah menjadi faktor keanekaragaman tersebut. Keanekaragamanan merupakan sebuah anugrah yang diberikan Gusti Pangeran kepada kita. Hal tersebut bisa menjadi sebuah keuntungan atau kekayaan bagi kita, apabila benar dalam penyikapannya. Bisa menjadi masalah, bila salah dalam memandang dan mengambil sikap. Tentunya itu semua tergantung cara pandang dan penyikapan kita  terhadap sesuatu sesuatu hal. Jika kita menyikapi perbedaan tersebut dengan arif, tentunya kondisi tersebut akan memperindah kehidupan kita. Namun jika kita menyikapi sebaliknya, maka masalahpun yang akan kita tuai dari kondisi tersebut.

Mari kita simak sejarah perjuangan kanjeng wali dahulu dalam mensyiarkan islam dibumi Nusantara. Berbekal kecerdasan dan kearifan dalam memandang dan bersikap, beliau-beliau berhasil mensyiarkan islam di bumi nusantara dan dapat diterima oleh masyarakat hingga sampai saat ini. Salah satu faktor keberhasilan dakwah kanjeng Walisanga, ialah kehandalannya dalam meramu islam dan budaya menjadi satu kesatuan dalam manembah kepada Gusti Pangeran.

Keberhasilan syiar tersebut coba diadopsi oleh Habib Asyhari alias Sri Narendra Kalaseba dalam berdakwah. Beliau mencoba mengadopsi dan mengkreasi dakwah para wali tanpa mengurangi substansi dari strateginya. Strategi dakwah melalui kebudayaan coba ia terapkan dalam memperingati atau menyambut tahun baru islam. Kegiatan tersebut sudah berjalan selama 7 tahun berruntut. Di setiap rangkaian acaranya selalu memasukan agenda budaya dalam acaranya.

Pada festival suronan tahun ini, diselengarakan pada tanggal  18-21 September 2017. Dari serangkaian acara tersebut diawalai dengan  acara karawitan pada hari pertama dan dilanjutkan Rock In Lesehan, tasyakuran mapak tahun dan karnaval budaya dihari-hari berikutnya. Acara festival ini tak hanya dihadiri dari masyarakat sekitar, namun juga dihadiri orang dari luar kota dan bahkan ada yang dari Jakarta. Masyarakat begitu antusias dalam menikmati acara-acara yang diselengarakan.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di area padepokan Majelis Sunan Gunung Jati, kami sudah disuguhi alunan musik cadas gubahan Dream Theater oleh salah satu grup band diacara tersebut. Seketika itu saya teringat masa SMA dulu yang suka mendengarkan musik-musik beraliran cadas, terutama suara-suara yang keluar dari pukulan dan hentakan para drumernya. Ditengah-tengah pementasan, Habib juga ikut menyanyikan lagu dari salah satu  grub band rock. Terlintas di otak saya, ini memang Kiai “nyeleneh/nyentrik” layaknya Gus Dur, Mbah Nun, Gus Mus, Gus Miek dll, itulah yang ada didalam benak pemikiran saya, entah benar entah salah itu hanya penilaian saya semata. Kenapa saya menilai beliau-beliau seperti itu, karena metode dakwah beliau berbeda dengan Kiai, Ustadz pada umumnya yang ceramah didepan majelis semata. Tidak mengurangi rasa takdzim pada beliau-beliau yang mengambil metode dakwah secara pasif. Mungkin itu sudah menjadi kehendah dari Gusti Pangeran bahwa tugas beliau seperti itu. Namun saya salut pada gaya syiar beliau-beliau yang mau merangkul seluruh lapisan masyarakat, tanpa membedakan status maupun stratifikasi sosial.

Di akhir sesi acara saya dan kelima dulur-dulur Suluk Surakartan dipersilahkan oleh santrinya, yang sebelumnya ketemu di warung disaat ngopi bersama, menemui Habib di aula untuk ngobrol-ngobrol santai. Dari obrolan tersebut, beliau menceritakan proses kreatif penciptaan Kidung Wahyu Kalaseba selama 9 tahun. Penciptaan Kidung tersebut terilhami dari naskah-nasakah asli (bukan versi terjemahan) Kanjeng Sunan Kalijaga yang ia baca. Salah satu dari dulur pegiat Suluk Surakartan menanyakan jumlah pusaka yang beliau miliki, yang ternyata jumlahnya ribuan. Dari sekian ribu pusaka yang beliau miliki, baru 954 an pusaka yang baru diwarangkani dan masih ribuan yang belum diwarangkani. Terlintas pengharapan dibenak pemikiran saya, seandainya diberikan salah satu pusaka (keris, tombak, jemparingan) atau teken yang ada diletakkan di aula. Saat Habib meninggalkan kami di aula beberapa saat, salah satu dari kita nyletuk tentang pengandaiannya diberikan pusaka atau teken dari habib, dan disusul satu persatu ungkapan dalam lubuk hati yang paling dalam dari kami. Ternyata tidak hanya saya saja yang berharap diberikan sesuatu oleh penggubah lagu Wahyu Kalaseba tersebut. Guyonan dan kecrohan-kecrohan mengisi waktu di saat ditinggal Habib.

Di puncak festival suronan saya beserta Mas Umar, Wasis dan Harsiti berangkat pagi untuk mendokumentasikan pusaka beliau dan acara kirab pusaka. Sekitar jam 08.30 Wib kami baru nyampai dilokasi karena keblasuk. Sayangnya kita terlambat mengikuti proses kirab sepenuhnya dan mendokumentasikan keris-keris beliau. Memang sedikit timbul kekecewaan karena ketinggalan beberapa momentum, namun hal tersebut terobati dengan semaraknya acara yang berlangsung. Kami berempat berbagi tugas mendokumentasikan momen-momen acara.

Pusaka yang diarak sudah sampai lokasi padepokan dan disimpan ketempat semula, acara dilanjutkan dengan pentas Drum Band, Reog dan Paskibra. Disela-sela acara tersebut, pemkab Sukoharjo melalui bupati Wardoyo memberikan penghargaan kepada Habib Asyhari, atas segala perjuangannya dalam menguri-uri kebudayaan. Begitu meriahnya acara tersebut sehingga membuat kami larut dalam menikmati suguhan pentas yang ditampilkan. Akhirnya acara pada sesi itu selesai dan kami kembali ke warung untuk berteduh dan mehilangkan dahaga. Sembari nyruput es teh di plataran, iseng-iseng mbukak gadget, ternyata di layar gadget menunjukan beberapa whatsapp yang masuk dan waktu 15.15 wib. Sambil sedikit berfikir aktivitass pagi hingga selesainya pentas di kirab, ternyata kami menghabiskan hari tersebut lumayan khusuk dengan melewatkan waktu begitu cepat. Betul kata orang-orang jika kita melakukan sesuatu dengan senang waktu akan berjalan dengan cepat tanpa kita sadari. Dari peristiwa tersebut saya mendapatkan hikmah bahwa yang memabukkan tidak hanya Jamu Dinda, Ciu, Bir Bintang, Mensen dan kawan-kawannya saja. Namun sesuatu yang hal yang mengasyikkan bisa menjadikan kita lalai melebihi minuman keras.

Menjelang adzan isya’ berkumandang satu persatu pegiat Suluk Surakartan tiba di area acara. Kehadiran dulur-dulur Suluk Surakarta dalam acara Festival Suronan karena diundang Habib Asyhari dan sesepuh Suluk Surakartan dimintai mengisi acara dalam festival tersebut. Setelah ba’da isya’ Pak dhe Herman, Pak As’ad dan Mas Toni dipersilahkan maju untuk naik panggung oleh pranata acara. Didalam penyampaian materi Pak Dhe mengangkat tema islam dan kebudayaan jawa. Islam dan jawa merupakan dua hal yang tak perlu dipertentangkan kembali. Karena keharmonisan islam dan jawa sudah terbukti sekian ratus tahun sejak zaman kanjeng wali. Namun pada saat ini ada oknum-oknum yang mencoba mengusik keharmonisan. Seperti pesan Mbah Nun dulu kala,  bahwa ada yang menginginkan islam dan jawa hancur seperti mereka menghancurkan timur tengah dengan konflik-konflik. Maka dari itu Dhe Herman menitik beratkan jangan samapai terbawa profokasi dengan segala macam usaha yang mencoba menceraikan islam dan jawa.

Di akhir sesi, Einstein yang diiringi Mas Prisa dan Mas Plente dalam menyanyikan gubahan Habib Wahyu Kidung Kalaseba. Diakhir Einstein dalam menyanyikan lirik lagu tersebut, Habib memberikan lawe kepadanya sebagai simbol penghargaan. Setelah acara pengisian dari sesepuh selesai kemudian dilanjutkan wiridan. Baru dilanjutkan wayangan dengan membawa lakon “Wahyu Kartika Dewandaru atau Pandawa Ruwat” yang dibawakan oleh Ki Danang Manteb Sudarsono. Ditengah-tengah wayangan, Habib menghampiri dulur-dulur Suluk Surakartan untuk mengucapakan rasa terima kasih atas partisipasi dalam mensukseskan acara festival. Beberapa saat kemudian beliau masuk kedalam untuk mengambil sesuatu. Ternyata beliau membawa sebuah teken untuk diberikan kepada Pak Dhe Herman. Kemudian saya berbisik-bisik pada Kang Ranto yang berada di sebelah kiri saya, yang kemarin juga hadir dalam acara Rock In Lesehan, yang berharap diberikan apa? yang diberi siapa? Itulah guyonan kami berdua atas penghayalan yang tak terwujud. Setelah itu Habib kembali melanjutkan sesi acara yang sudah tersusun, dan kami pun menyaksikan kembali wayangan.

Oleh: Wahyudi Sutrisno

Tulisan terkait