Menu Close

MUDIK (Pada-MU DIKembalikan)

9Shares

 

Oleh: Muhammadona Setiawan

“Orang pandai dan beradab takkan tenang diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah. Sebab air yang diam menjadi keruh dan rusak. Sedangkan air yang mengalir menjadi jernih.”

Berangkat dari nasihat Imam Syafi’i itulah, pasca lulus SMA saya memutuskan hijrah. Merantau kecil-kecilan. Keluar dari rumah, melanjutkan kuliah di salah satu Perguruan Tinggi swasta yang ada di Yogyakarta. Kurun 5 tahun saya menghabiskan waktu disana. Ya kuliah, ya dolan, pacaran, nonton konser, nongkrong di Mall, pokeran di X-code, camping, mantai, dll. Dan sepertinya lebih banyak main-nya deh ketimbang kuliah. Huhu. Jangan di tiru!

Hidup merantau jauh dari orang tua, ada suka ada duka. Sukanya, bebas-merdeka melakukan apa saja. Dukanya, d isaat dompet lepét nggak ada penghuninya. Ini yang bikin ngelu sodara-sodara. Maka satu-satunya jurus andalan yang digunakan adalah NGUTANG. Kebetulan di depan kost ada warung burjo. Si mang Amin penjual burjo paham betul dengan gelagat saya dan kolega, saat-saat dimana kita sedang bokek nggak punya duit. Dengan nada memelas, plus pasang muka pucat, kami istiqomah ngebon mie rebus telor setiap malam. Sampai pada waktu yang tak bisa ditentukan. Pokoknya haturnuhun sanget mang Amin. Engkaulah pahlawan pemberantas kelaparan para Mahasiswa keré seperti kami. Semoga kebaikan mang Amin, dibalas pahala berlipat ganda oleh Allah Swt. Amiiin.

Untuk menyokong kebutuhan makan dan keberlangsungan hidup sehari-hari, saya pun nyambi kerja. Mulai dari jaga warnet, jaga toko, ngamen, nyanyi serabutan, serabutan di Percetakan, bantu teman jualan kaos, ngemsi acara lomba, ulang tahun, grand opening Toserba, dan apa saja dijabanin asal halal dan menghasilkan. Itu prinsip. Prinsip rai gedhék  tepatnya. Tapi paling tidak bisa buat nyicil bayar utang mang Amin dan beliin pulsa sang pacar.

**

Waktu terus berputar. Usai lulus kuliah dan sedikit mengantongi pengalaman kerja selama di Yogya, ada hasrat dalam diri untuk merantau lagi. Yang lebih jauh. Lebih menantang dan menjanjikan. Ibukota Jakarta akhirnya menjadi tujuan rantau berikutnya. Maret 2010 saya mantap hijrah ke barat. Mengembara di kota metropolitan. Mengais asa. Meraih cita-cita.

Mencari kerja di kota besar macam Jakarta, nyatanya tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh skill, link, koneksi dengan orang dalam, dan tentu saja nyali yang besar. Bahkan kalau perlu bonek. Bondo nekat. Kalau selama di Yogya sudah pasang rai gedhék, maka di Jakarta harus berani memasang rai beton. Sebab disana (Jakarta) itu ora obah ora mamah. Budaya kehidupan manusia kota lebih cenderung elo-elo, gue-gue. Krisis empati. Jauh dari ruh keguyub-rukunan. Nganggur di Jakarta seminggu saja, rasanya sudah seperti kiamat sugra. Mengenaskan.

Kalau tidak salah ingat, selama bertahun stay di Jakarta, sudah beberapa kali saya pindah kerjaan. 3 bulan di Restoran. 5 bulan di kantor Telekomunikasi daerah Kebon Jeruk. 1 tahun di pabrik Garmen Mangga Dua. 1,5 tahun ikut sebuah rumah produksi iklan dan film, sambil jadi extras alias pemain figuran. Sampai pada suatu ketika, ada yang menawari saya untuk menjadi guru honorer di salah satu SD swasta di kawasan Jakarta Timur. Selanjutnya saya juga ‘berkarir’ sebagai guru les private plus guru ngaji. Di luar itu saya juga meluangkan waktu sebagai tenaga volunteer di rumah singgah pinggir stasiun Bekasi. Menjadi wartawan lepas (freeland), dan tak ketinggalan pula sempat berprofesi jadi tukang ojek antar jemput anak sekolah. Dulu belum ada ojek online gaes. Hehe.

**

Anehnya, selama hampir 5 tahun malang melintang di Jakarta, saya belum jua berhasil menemukan apa tujuan hidup yang sebenarnya. Kerja sudah, uang punya, kendaraan ada, teman banyak, pacar putus-nyambung, komunitas dimana-mana. Tapi tetap saja ada yang kurang. Pekerjaan yang didapat rasanya belum klop. Belum seperti yang sejak lama dielu-elukan. Soal perempuan, setiap mau serius selalu saja ada halangan. Anaknya mau, tapi orang tuanya kagak setuju. Giliran ada ortu yang setuju, tapi saya disuruh nunggu sampai kuliah anaknya selesai dulu. Gagal maning-gagal maning Jon. Jodoh memang misteri Illahi.

Sampai akhirnya Tuhan iba melihat saya. Allah prihatin dengan keadaan miris hambaNya. Tak sengaja, gerak kaki saya dibimbing. Berjalan di suatu malam sendirian. Menyusuri ruas jalanan Ibukota. Langkah saya terhenti, tepat didepan pelataran Taman Ismail Marzuki Cikini.

Melihat sekerumunan orang berkumpul disana, mendorong saya untuk mendekat. Merapat. Ikut membaur diantara orang-orang yang sama sekali tidak saya kenal. Diatas panggung mungil tampak seorang pria paruh baya, mengenakan kemeja putih, celana hitam, rambut agak panjang, ngombak andan-andan. Memegang mic dan terus berbicara tanpa jeda. Enak dan mudah diserap. Timbul kemudian suasana akrab, hangat, cair dan mesra. Pikiran dan hati terbuka. Merdeka rasanya. Sejak saat itulah saya mengenal Kenduri Cinta. Memasuki kebun subur bernama Maiyah. Dan berguru kepada Simbah.

Pulanglah ke desa

Membangun esok hari

Kembali ke huma berhati…

Kompas takdir Allah melalui wasilah Mbah Nun, menuntun saya untuk kembali ke dusun. Balik ke tempat asal. Kampung kelahiran. Tuhan dengan skenario besarNya menggiring saya untuk beranjak meninggalkan Jakarta. Pulang ke desa. Mengabdikan diri menjadi tenaga pengajar di Sekolah Dasar. Hebatnya lagi, di tempat kerja itulah saya dipertemukan seorang Bidadari. Yang kini saya menyebutnya istri. Alhamdulillah, di desa saya berhasil mereguk cita, sekaligus memeluk cinta.

**

Hidup, pada hakikatnya adalah perjalanan melingkar. Berputar pada garis takdir-Nya. Innalillahi wa inailaihi raji’un. Berasal dari dan menuju kembali ke Tuhan. Yang pergi akan pulang. Yang pamit akan balik. Yang merantau akan mudik. Anak rindu bertemu ibunya. Rakyat rindu pada tanah airnya. Hamba rindu bersatu dengan Tuhan-Nya.

Ya Allah, Ya Rahman, seluruhnya padaMU DIKembalikan.

Selamat Iebaran sedulur Surakartan. Lahir-batin mohon dimaafkan.

#EdisiLebaran

Tulisan terkait