Menu Close

Penjajahan Atau Perlawanan Rumput

0Shares

Semua dari kita anak milenial pasti pernah mempelajari bagaimana jaman prasejarah di bangku SD. Sebuah masyarakat bergerak, berpindah nomaden berburu, membuka – meninggalkan lahan lalu mengusahakan lahan. Seperti anjuran kitab Genesis-nya Musa.  “beranak cuculah dan usahakanlah bumi”.

Ditemukanlah berbagai penemuan masa-masa itu, namun rumput sebagai tumbuhan peka-jaman tak pernah dianggap sebagai tumbuhan simbol penting sebuah peradaban. Kapak perimbas, menhir,  dan pakaian dari kulit binatang justru yang menjadi perhatian arkeolog. Hal-hal arsitektural seperti ini yang terus menerus dilahap habis siswa sekolah, hingga ke depannya tolak ukur peradaban hanya berhenti pada budaya Monumental.

Jaman selanjutnya didepan Tembok Ratapan, atau Candi Borobudur -pun, rumput juga tak menjadi perhatian serius. Namun begitu abad pencerahan, simbologi penjajahan dibuat, dimistifikasikan, dan didoktrinkan sebagai kekuatan dibawah alam berpikir sadar manusia.

Kastil, Istana, hingga loji-loji didaerah kolonial terjangkiti wabah rumput ini. Di kala rakyat jelata yang punya sepetak tanah dan akan diusahakan maksimal kaum proletar dengan berbagai cara, para bangsawan justru menutupi halamannya yang luas dengan rumput yang secara ekonomi “tak berfaedah”.

Tapi ini adalah simbol, yang kemudian diamini sebagai mistifikasi kekuasaan. Rumput tumbuhan liar itu kini naik level di  tataran tumbuhan nyentrik perlambang penguasaan lahan. Di abad-abad selanjutnya juga begitu, halaman rumah menjadi barang mahal ketika tanah semakin sempit dan uang untuk membeli perumahanpun hanya akan menyisakan lahan sempit rumput yang tak seluas taman didepan gedung putih, atau alun-alun utara keraton Kasunanan.

Rumput-rumput tadi kini berubah, bermanifestasi menjadi data. Di kala tahun 1950an orang menghargai piringan hitam sebagai sebuah data yang bisa diputar dan dipunyai kelompok elit. Kini mp3 sebesar 4 megabytes bisa didownload dengan uang receh 1000. Jaman dulu data hanya dianggap sebagai informasi sekarang penguasaan data yang besar yang akan memenangkan sebuah koloni.

Kalau di jaman Crusader, Salahudin Al Ayubi mampu memenangkan Islam melawan Reynald de Cathilon karena dia tahu persis faktor geografis Lembah Hattin.  Sekarang Siapa yang punya kendali penuh atas strategi dan kepunyaan metode peperangan Cyber didunia modern? Seberapa jauh kita dipisahkan oleh pure-intellegence kita? Apa yang disembunyikan? Rumput-rumput seperti apa yang sekarang kita percayai sebagai tahayul dunia modern, apakah mode pakaian, gawai, atau makanan junk food yang terus kita beli meski kita tahu tak menyehatkan, namun alam bawah sadar kita terus menerus ditekan untuj mempercayainya.

Tv dan internet sebagai keran doktrinasi, mereka tak ubahnya speaker yang melantangkan ideologi untuk kita amini.

Di Skala global kita memasuki masa-masa pasca Negara dimana sekarang batas-batas teritori mulai secara halus dijebol teknologi, dan arus informasi antar penjuru bumi mengalir deras bagai sungai Eufrat dan Tigris dimana adam dijatuhkan ke Bumi. Manusia bergeser menuju keilahian.

Lalu akankah rumput-rumput mistifikasictadi kita sembah sebagai tuhan baru atau justru kesadaran diri kitalah yang melawannya membalikkannya, rumput sebagai simbol perlawaban atas kolonialisasi zaman baru, sisi lainnya Investasi hotel mulai parah, rumput menghias terasnya, tahayul masih berjalan, nilai rumput semakin tinggi jadi pijakan kaki-kaki penguasa dilapangan golf, sementara saya harus menyemprot halaman rumah saya menghilangkan rumput, penghujan nanti baru kutanami benih-benih yang kusemai.

Mari menakar kesadaran kita untuk tak gampang dibuai rumput, bukankah kita manusia? Atau justru kita tak mau sadar dijadikan kambing-kambing ?

Salam untuk zaman yang segera datang…..

Kleco Wetan, 20 Juli 2018

Indra Agusta

Tulisan terkait