Menu Close

3 Kunci Menjadi Master Of Ceremony

0Shares

Pada Tajuk : Dari Mbah Nun Kepada Semua Pelaku Maiyah (5/6/2019), beliau memberi dawuh, memohon kepada semua pejalan Maiyah menuliskan kata, kalimat atau tulisan “tahadduts bin-ni’mah” tanpa dibatasi pendek panjangnya—yang mungkin berisi rasa syukur, kritik, harapan dan saran, atau apapun. Tahadduts bin-ni’mah ialah mengabarkan nikmat-nikmat Allah yang diterima seorang hamba, dengan cara yang elok sarwo empan papan.

Sebagai rasa syukur, serta mengindahkan dawuhnya Simbah, saya mencoba urun bagian dengan menuangkan sebuah tulisan. Tidak banyak. Semoga bermanfaat.

Baik. Belajar kepada Mbah Nun adalah belajar kehidupan. Belajar memaknai bahwa kehidupan begitu luasnya dan kompleks. Maka dalam meniti dan menata hidup, dibutuhkan kejembaran hati, keluasan referensi, cakrawala berfikir, cara pandang, kearifan sikap, kebijaksanaan keputusan, dll. Melalui wasilah Mbah Nun, kita belajar semua itu. Tak terkecuali saya.

Begitu banyak pendaran ilmu yang  diwedar Mbah Nun untuk kita anak-cucu Jamaah Maiyah. Wujud dan implementasinya pun beragam. Dari sekian banyak ilmu yang terserap, ada sedikit yang ingin saya bagikan disini. Dan baru-baru ini baru saya sadari, ternyata ilmu tersebut sangat berguna bagi kelancaran satu pekerjaan yang saya geluti.

Baik. Begini. Diluar jam mengajar di sekolah, saya kerap dimintai tolong orang untuk menjadi pembawa acara. Atau biasa disebut MC. Master Of Ceremony. Kalau orang Yogya sering me-mleset-kannya menjadi Master Of Conthong. (Hehe). Conthong adalah istilah lain dari mulut–cangkem–lambe, lan sak piturute.

Acara yang saya bawakan pun bermacam-macam. Formal maupun non-formal. Dari mulai acara ulang tahun, yasinan, pengajian, Grand Opening sebuah toko, acara lamaran teman, perpisahan guru, rapat internal, halal bihalal keluarga, dan entah apalagi. Fee-nya juga bervariasi. Ada yang ngamplopi, dikasih barang/ bingkisan, bahkan ada juga yang hanya sekadar memberi sebungkus rokok dan secangkir kopi. Endak masalah. Yang penting semua hepi.

Nah, selama bergelut di dunia per-MC-an, ada beberapa “jurus” yang saya terapkan, dimana jurus tersebut saya dapatkan dari acara Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Diatas panggung, Mbah Nun tidak sekadar sebagai narasumber/ penceramah. Beliau juga fasih berperan laiknya motivator, penghibur, pendongeng, penyanyi, moderator, dll. Dari pembawaan diri Simbah diatas panggung Sinau Bareng (Maiyahan) itulah, paling tidak ada 3 kunci yang berhasil saya tangkap dan trapkan ketika sedang membawakan suatu acara.

Pertama, peka/ sensitif terhadap situasi dan kondisi. Pandai membaca keadaan atau atmosfer yang sedang berlangsung. Ini bisa keadaan alam (cuaca), suasana sekitar, tema acara, kondisi psikologis jamaah, sampai faktor-faktor lainnya. Mbah Nun sangat jeli akan hal itu. Selalu membuka acara dengan ungkapan yang tak terduga dan berhasil memagnet suasana. Hal itu pula yang selalu coba saya praktekkan saat ngemsi.

Misal, ketika itu saya dipercaya untuk menjadi MC acara lamaran seorang teman. Teman saya itu cewek, dan beragama katholik. Menurut rencana, prosesi lamaran akan dilangsungkan pukul 3 sore. Setengah jam sebelumnya, saya berangkat dari rumah menuju lokasi. Tiba-tiba ditengah jalan turun hujan. Tidak deras, tidak juga lama. Tapi cukup berderai. Cukup menyejukkan suasana, menimbulkan aroma bau tanah yang khas.

Ketika acara dimulai, kalimat pertama yang saya ucapkan adalah ;

“Tidak ada satu pun tetes hujan yang turun dari langit ke bumi, dimana para Malaikat Allah tidak ikut menyertainya. Setiap tetes hujan tersebut mengandung keberkahan didalamnya. Artinya, hujan yang turun barusan menjadi bukti, bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa memberkahi acara kita pada sore hari ini”.

Hadirin pun tersenyum. Wajahnya sumringah, pancaran dari hati yang bungah. Langkah pertama yang harus ditempuh MC ialah merebut hati seluruh tamu (audiens) yang hadir.

Kedua, memiliki sense humor yang tinggi. Bukan hanya tinggi, tapi juga harus cerdas. Seperti kita tahu Mbah Nun sangat piawai mengocok perut jamaah. Apapun bisa dikemas menjadi humor oleh beliau. Apa yang dilihat, didengar, dapat diramu menjadi sesuatu yang lucu. Meski tak jarang dengan cara mem-bully orang, namun tetap disampaikan dengan tata bahasa yang santun, dan sama sekali tidak terkesan menyakiti/ menyinggung perasaan siapapun. Bahkan orang yang digarapi  Simbah malah cengar-cengir sendiri. Salah satu korbannya mungkin adalah pak Nevi.

Selain musik KiaiKanjeng yang menghibur, celetukan, canda gurau serta seni humor ala Mbah Nun menjadi faktor plus yang membuat para jamaah betah maiyahan berjam-jam. Humor versi Mbah Nun telah berhasil membuat suasana Sinau Bareng terasa cair, gerrr, dan tidak membosankan. Kalau boleh memberi julukan baru, Mbah Nun adalah sang profesor humor.

Maka seni humor yang diaplikasikan Mbah Nun diberbagai forum Maiyahan itulah yang kemudian saya upayakan setiap kali membawakan sebuah acara. MC mesti cerdas mengolah dan melempar humor, agar acara tidak berjalan kaku dan monoton.

Ketiga, Mbah Nun selalu dan selalu mampu mengaitkan, menghubungkan, menarik garis lurus vertikal. Maksudnya, apapun tema pembahasan selalu dielaborasi sampai ujung-ujungnya nyambung, ketemu sama Tuhan. Dengan kata lain, segala sesuatu yang terjadi/ berlangsung tidak pernah lepas dari campur tangan Tuhan. Maka dalam acara apa saja, resmi atau tidak resmi, mewah atau sederhana, sakral maupun hiburan, seorang MC hendaknya mampu mengingatkan-mengajak-membawa kesadaran audiens untuk selalu eling dan bersyukur pada-Nya. Sukses dan lancarnya suatu acara/ hajatan, itu semata-mata atas izin Allah Swt.

Baik. Itulah 3 kunci yang secara tidak langsung diajarkan oleh Mbah Nun, yang bisa dijadikan acuan bagi siapa saja yang ingin atau sudah bergelut di bidang per-MC-an. Bahkan tidak menutup kemungkinan, 3 kunci tersebut dapat juga diaplikasikan dalam bidang/ profesi/ pekerjaan yang lain. Terima kasih.

Salam

Gemolong,  Syawal 1440 H

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait